Monday, April 27, 2015

(Masih) Tak Bernama

“Sayangnya aku memang tak pernah tahu rasanya jatuh hati dengan benar. Hatiku tak pernah aku siapkan sungguh-sungguh untuk itu. Aku tak pernah merasa hal ini akan menyulitkanku suatu saat nanti. Hingga saatnya kini aku menghadapi keadaan yang mengembangkan hatiku untuk berlapang menerima perasaan seseorang, lagi. Aku hanya tak tahu rasanya itu seperti apa. Aku hanya tak paham dan karena itu aku sering mengabaikannya. Bahkan dengan perhatian sekalipun aku sering melewatkan perasaan jatuh hati seseorang dan perasaan jatuh hatiku. Rasanya masih samar-samar”
Bukankah rasanya lucu, salah satu dari kita akhirnya mengatakan perasaannya. Bukankah ini terlalu tiba-tiba. Kita itu masih mencari-mencari hal apa yang bisa menyatukan dua rasa dan pemikiran yang dulunya terpaut jauh. Kita masih menerka apa yang dapat menjadikan kita serasi tanpa disamakan. Kita masih seperti itu.
apakah kau menikmati permainan rasa yang kau mulai sendiri ini? Apakah kau sedang mengajakku memainkannya dan menjadikanku pemenang?
yang aku tahu ketika kita jatuh hati kita akan memainkan keadaan, mengalih fungsikan hati menjadi pemikir yang utama, otak akan menilai belakangan, dan kita akan memenangkannya berdua. Iya, seperti itu.
Andaikan ada kata yang lebih baik untuk aku tuliskan selain ‘aku tak tau’ atau ‘aku masih tak paham’ ketika aku ingin menanggapi pernyataannmu yang bagiku masih samar untuk aku lihat, mungkin aku akan merasa lebih lega ketika kita berdekatan. Mungkin aku tak akan merasa kikuk dan memilin-milih kain bajuku saat kita begitu dekat. Setidaknya itu yang aku bayangkan akan terjadi padaku ketika kita bertemu.
Entah apa alasannya kini aku menulis tentang seseorang yang sebelumnya tak pernah aku kira akan ku jadikan isi tulisanku. Seseorang sepertimu. Keadaan berubah. Perasaan seseorang pun bisa demikian. Semuanya bisa mengacau pikiran untuk tak mengabaikan kebaikan dari seseorang yang dipermudah alam untuk terjadi. Dari beberapa yang pernah aku jadikan penggembira tulisanku, pewarna cerita yang sering kali tak ada tuannya, kau adalah salah satu yang masih sederhana bagiku. Setidaknya itulah yang terjadi di antara kita saat ini. Merasakan perasaan yang sederhana.
Apakah kau pernah tersenyum-senyum sendiri ketika memikirkanku? Apakah kau pernah merasa sesak sendirian ketika kau tak bisa mengatakan apapun padaku? Apa kau pernah merasa menyesal tak menyadari keberadaanku, melewatiku, dan tak menyapaku? Apakah kau merasa begitu bahagia bahkan hanya dengan membaca balasan pesanku?
Lihatlah betapa sederhananya perasaan yang seperti ini yang ternyata bisa terjadi di diri manusia yang jiwanya sering merumitkan segala sesuatunya. Apakah kau mengalami semua itu..
“Aku tak tahu namanya, karena setiap negara menamakannya berbeda. Dan cinta adalah kata universal untuk mencakup itu. Namun cinta tak sesederhana ini, dan tak terlihat remeh seperti ini. Yang ku sebutkan tadi begitu sederhana bukan. Namun tak mungkin kau jelaskan dengan alasan yang begitu sedikit.”

Thursday, April 9, 2015

Tulisan Tanpa Tanda Baca

Tak kuketik. Hanya berbicara dan device merekamnya.



 hari ini aku melihatnya lagi hari ini aku benar benar melihatnya hari ini meyakinkan satu hal bahwa sepertinya 1 hari tanpa menangkap sosokmu tidak seperti diriku sepertinya aku memang sudah menjadi pengagum beratmu aku telah jatuh cinta pada kata katamu aku tak pernah jatuh cinta pada tulisanmu aku tak pernah jatuh cinta pada senyumanmu atau cara bicaramu atau bagaimana dirimu berpakaian di depanku aku jatuh cinta dengan segala macam aura yang ada di dirimu aku jatuh cinta dengan pesan yang kau sisipkan di setiap tulisanmu sepertinya aku mencintaimu dengan cara yang berbeda terkadang aku berpikir bolehkah aku menyampaikan perasaanku padamu bolehkah aku mengatakan satu kata saja ketika kau sedang bersamaku tapi aku kembali teringat bahwa jarang sekali kesempatan yang kudapatkan bersamamu jika ada pasti akan dibatasi oleh2 atau empat mata sambernyawa seperti biasa didepan dan dibelakang seperti biasa aku hanya bisa melihatmu dari belakang mencoba mencuri curi wajahmu ketika aku beranjak dari tempat dudukku untuk pindah ke kelas sebelah hari ini aku menyadari satu hal lagi ternyata memang banyak kata kata yang ku hasilkan ketika aku memikirkan dirimu apakah ini karena kau begitu indah atau karena gaya tarik yang begitu kuat sebenarnya aku pernah mengingkari dan mencoba untuk berhenti tapi rasanya sedemikian sakit tidak rasanya tidak sesakit itu tapi rasanya begitu menyesakkan seperti biasa aku akan menggunakan kata menyenangkan karena menyakitkan pasti akan terasa berlebihan karena aku mencintaimu dengan cara sederhana kau tahu cara seperti apa aku mencintaimu dengan caraku menyisipkan namamu disetiap doaku jika tuhan mau mendengarnya tuhan pasti mendengarnya dan aku hanya meminta beri aku kesempatan untuk mengatakan perasaanku dan mendapat jawaban iya darimu dan kita kan bersama kau tahu matahari yang belum bisa aku lupakan sampai saat ini kaulah sudut setengah mataharikaulah sudut setengah matahari itu dirimu dan aku adalah pengagum yang hanya bisa melihatmu dari bawah sini sepertinya bukan dari situ hahaha aku hanya bercanda karena air mata adalah salah satu contoh yang lainnya terimakasih.

Thursday, April 4, 2013

-istilahnya Senja

waktu mungkin seringkali tak mendukungku bertemu denganmu, 
tak banyak dia menyisakan kesempatan bagiku untuk berada di dekatmu. 
Namun, haruskah aku merasa sedih jika memang itu kenyataanya? *meski ada takdir yg bisa mempertemukan aku dan kau
Tapi aku selalu merasa bahagia ketika aku menatap langit sore yang jingga. 
Kehangatan sore yg tak menyengat seprti siang dan angin semilirnya yang sesekali menyentuh lembut kulitku, membuatku senang. Membayangkan momen sederhana ini aku nikmati bersama dirimu,
Duduk berdua dengan secangkir kehangatan di tangan kita masing-masing. Haha .. momen yang kebanyakan  dianggap jadul, tapi mau gimana lagi jika aku menyukainya.
Aku menyukai sang matahari yang malu-malu bersinar di saat sore, menyisakan senja yang selalu aku potret dan simpan untuk kenangan bahagiaku. Aku menyukai sisi senja yang sepertimu, mengantarkanku pada malam, pada ketenangan yang menjaga tidur lelapku. 
Senja seperti kau, 
dia dapat mengukir bahagiaku, seperti kau yang mengukir perasaan ini di hatiku.
Senja mungkin cepat berlalu, tapi dia selalu datang lagi, lagi dan sesungguhnya tak pernah pergi jauh, sama sepertimu.
kini akhirnya ada kesempatanku untuk bertemu .. 



*kau tidak akan pernah tau apa yang Tuhan rencanakan bagi cintamu. Bukalah mata mu, dan aktifkan semua indera yang kau punya, sebenarnya ada pangeran kuda putihmu sedang menunggumu di sana. Di sekitar tempatmu berada.

Wednesday, March 20, 2013

ini PELIK


       Aku hampir saja menangis. Iya menangis, menteskan butiran-butiran air yang pabriknya ada di kelenjar air mata itu. Perasaan itu mengusikkku lagi. Awalnya hanya hal yang rasanya sangat wajar, berdebar pun tidak. Aku hanya merasa tertarik pada apa yang dia tuliskan. Dia mencatatkannya detail, setiap perisiwa kecil yang dia rekam dikepalanya seolah-olah dia bagi denganku dan dia mengajakku untuk menyaksikannya. Hal itu menggugah sesuatu yang sebelumnya terlelap dalam jiwaku, membuat diri ini beranggapan "Dirinya sangat mirip denganku". Seketika perasaan yang sungguh mengganggu itu muncul. Membuatku seperti orang gila. Tak waras dalam mengenali perasaan yang sejatinya aku paham apa itu. 
       Aku merasa sedih. Entah aku merasa duka atas hal apa aku tak tahu. Kata-kata yang dia bagikan dalam ceritanya seolah menyimpan kepedihan. Kepedihan yang menular cepat padaku. Kepedihan yang tercium baunya, muncul dan menyergapku dengan perasaan kacau. 

       Dia sang mata angin, dia sang biru yang pandangannya menyisakan obsesi jiwa menaklukkan dunia. Dia yang bangga akan pendiriannya. Dia yang menjadi utara ketika medanku adalah selatan. Dia yang seketika menyadarkanku bahwa aku akan sia-sia jika tak menaklukkan ketakutanku, aku akan sia-sia jika aku tak memanfaatkan waktuku, aku yang akan menjadi manusia tua tak guna jika aku terus saja menjadi sahabat baik penunda. 
       Bagiku apa yang terjadi saat ini sungguh di luar penguasaanku atas diri. Rasanya pelik, menjadikan dia  guru padahal sepertinya ada perasaan spesial yang tersempil di hatiku untuknya. Yah, toh bisa jadi ini hal yang sementara, Paling-paling akan berganti dan lenyap seperti perasaan tak terdefinisi sebelumnya. 
#sigh

TSY - for good



Friday, February 1, 2013

TIMUR

"kau mata angin 
menjadi penunjuk kilau muncul setengah hari 
kaulah sudut bermula angin yang tak bernyawa 
ketika petang tiba perlahan, 
kau melambaikan padanya untuk menyimpan kilau setengah hari 
kau mata angin yang mengawali 
entah dari suatu irama atau kias suatu nada 
itulah kau ....."


      Padahal bisa saja aku sampaikan dengan kata-kata yang jelas, bahwa aku merindukannya. Ugh, memalukan! xD. Mungkin aku hanya terbawa suasana 'single' yang nyatanya memang sedikit menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi, aku jadi terpikir untuk membuat sebuah puisi tentangnya, maksudku namanya. Hihihi

Thursday, June 21, 2012

3 WAKTU



Sebenarnya banyak yang belum aku tau dan pastikan. Jika selama ini aku hanya hidup bersama pemikiran-pemikiranku, berarti aku tak beruntung. Kadang aku berharap dengan pemikiran inilah aku bisa menemukannya, menemukan *****. Tapi pemikiran-pemikiran ini tak cukup membantuku. Ada hal lain yang aku butuhkan dan aku tak bisa mendapatkannya sampai saat ini juga. Apakah harus aku lewati kembali masa laluku sebagai waktu yang pertama? Tapi itu membosankan. Hanya dipenuhi anggapan palsu sekitarku dan pemikiranku yang berusaha berdiri meski rasanya lemah. Aku belum menemukan apapun saat itu.

Waktu keduaku adalah saat ini. Aku bernyanyi, merangkai kata-kata untuk laguku yang sepenuhnya adalah ungkapan hati yang terkunci. Aku menyukai saat ini, aku menyukai waktu yang kedua ini. Tak lagi berdiri sendiri bersama pemikiran kaku itu, ada banyak yang membantu. Entahlah, hanya saja bantuan itu tak bisa aku lihat tapi aku yakin aku merasakannya, sesuatu yang dapat meringankan hatiku yang terasa berat ini. Aku berharap banyak jika itu adalah yang dinamakan *****. Manis, meski nantinya bisa menjadi pahit. Haaaaaaaah...

Terakhir, waktu ketigaku, nanti. Bukan yang akan datang, tapi nanti. Aku ingin cepat-cepat ada disana. Nanti, disaat aku benar-benar bisa menemukannya, menemukan *****. Nanti, disaat aku dan temanku bisa bersama pula. Nanti, disaat dia tak menyakiti siapapun tak terkecuali aku. Nanti, saat aku cukup berani untuk menanggalkan pemikiranku. Nanti, ketika perasaanku tak akan cukup untuk akau gambarkan dalam setiap lagu yang aku buat. Dan Nanti, jika aku yakin bahwa ***** adalah tanda untuk "CINTA".
Loving you make me happy everyday~Larc`en Ciel

SEDIKIT


Waktu itu sepertinya berjalan cepat. Sekelebat bayangan tentang masa itu membuyarkan lamunan siangku. Aku hanya bisa menghela nafas panjang, berharap ada mesin waktu jatuh dari langit dan mengubah seluruh hidupku.
Apa ya yang aku rasakan? aku selalu bertanya ini itu pada diriku. Aku hanya merasa RASA itu hanya sebuah angan-angan yang menidurkanku dalam sebuah mimpi yang panjang. Seolah-olah aku tak akan terbangun, tak ingin terjaga. Selalu saja aku merasa nyaman di dalam dunia khayalanku.
Aku selalu menjadi nomor satu, selalu menjadi perhatian yang menarik setiap simpati (bukan iba yang selalu saja membuatku terlihat bodoh). Intinya, khayalanku selalu saja sama seperti waktu itu. Waktu dimana aku mencoba untuk tak menjadi diriku, menjadi disukai bukan karena sifatku, waktu dimana aku dicintai bukan karena cinta sesungguhnya dalam diriku. Aku, saat itu, seperti amplop bersegel lilin yang tak pernah terbuka. Selalu terlihat menarik tapi tak ada yang tau seperti apa isi sesungguhnya. Selalu dijaga, tanpa tau apa yang mereka jaga. Tapi saat ini, masa dimana aku menjadi diriku, tapi tak ada yang mau mengerti. Sepertinya mereka lupa akan diriku dulu. Mereka tak pernah mengingatku, tak pernah ingat ada aku di dalam hidup mereka. Tak pernah sekalipun menyimpan kenangan tentangku di dalam pikiran mereka. Mereka tak menyisihkan tempat bagiku di hati mereka.
SEDIKIT saja , jika ada SEDIKIT saja RASA itu, aku akan bahagia.. Kepergianku tak akan sia-sia. Kenangan tentangku akan terus diingat, meski aku mati tapi kenangan tentangku akan tetap hidup di dalam diri mereka. Menjadikan keberadaanku bukan sesuatu yang sia-sia pula. Bukan sesuatu yang akan aku sesali untuk tinggal di antaranya, diantara CINTA dan RASA-RASA yang ada di dunia.

Friday, June 8, 2012

Kopi Pahit

Sejenak dia hanya berpaling dari cangkir merahnya itu, memandang sekeliling dan tersenyum tipis. Dia pun kembali  menyeruput kopi hitam pesanannya tadi. Ekspresinya yang menahan pahit terlihat menarik bagiku, lalu tiba-tiba dia tersedak, batuk, dan berlari ke kamar kecil. Tanpa sadar aku mengikutinya. Berlari terburu-buru mengikuti iramanya yang tergesa-gesa. Aku berhenti. Menunggunya di balik pintu kamar kecil untuk pria. Ah, aku tak tahu apa yang terjadi. Rasanya janggal, aku mengikutinya seperti penguntit, aku mengendap-endap dan bersembunyi hanya untuk melihat keadaanya.
"Klek" Pintu kamar mandi itu terbuka. Aku melihatnya, jelas dengan kedua mataku ini dia menangis, matanya memerah dan tisu itu selalu saja diusap-usapkannya dengan buru-buru ke arah matanya.
"Hiks" Aku mendengarnya. Dia memang menangis.

Dari balik pintu aku terus memperhatikan dirinya. Aku mulai berimajinasi, mungkinkah dia menagis karena seseorang yang ditunggunya tak juga datang, atau karena dia memang sedang bersedih dan datang ke kafe ku, atau.. kopi kafe ku ini memang tak enak? Oops, imajinasiku mulai mengoceh tak jelas. Aku menahan nafas dalam. Aku beranikan diri untuk menghampirinya yang sedang sibuk mengusap air matanya dan ingusnya yang meler itu.
"Permisi, mba nggak apa-apa?", tanyaku dengan pelan. Sangat pelann ...
"ah, hah .... um.. Enggak, saya baik-baik saja", jawabnya cepat sambil terburu-buru menuju mejanya.
Yah, mungkin aku yang terlalu kepikiran tentang cewe itu. Apalagi dia pengunjung setia kafeku akhir-akhir ini, dan yang dipesannya selalu saja kopi pahit. Cuma ngopi terus dia balik , dateng cuma ngopi terus balik, kapan makannya.

Esok harinya aku berangkat pagi. Hari ini ada tamu spesial datang ke kafe kecil ku ini. Sepertinya dia akan membawa pasukannya seperti tiga bulan yang lalu. Memesan kafe ini satu hari penuh, dan meng-order semua makanan khas kafe ku, tak ketinggalan kopi pahit itu. Hahaha..
Aku pun menyiapkan semuanya terlebih dahulu sebelum semua karyawanku datang dan membantu. Aku merapikan meja-meja pelanggan dan dapur. "Yap, semuanya cukup bagus. Biar karyawan ku aja ah yang nyelesein.", ucapku penuh rasa bangga dan puas.
Aku pun kembali ke dapur, mengambil tempat sampah yang kurang lebih sudah cukup penuh. Aku berniat membuangnya. "KlingKlong", aku buka pintu belakang kafe ku. Tanpa aku sadari seseorang sudah ada di belakangku, dia menepuk pundakku dan memberikanku sebuah surat. Aku menoleh, samar-samar aku mengenali dirinya yang sedang berlari terburu-buru menuju pintu depan. Aku pun mulai membaca kertas biru laut itu. "Tes .." Hah?! Aku menangis. Aku .. Air mataku perlahan turun berurutan , perlahan membasahi kertas biru laut yang ada di tanganku itu.
Dia menuliskan hal yang begitu meresahkan hatiku, merajuk pelan kepadaku.



"Kalau saja saat itu hujan hanyalah rintik-rintik mungkin aku tak akan pernah bertemu denganmu. Untung saja saat itu hujan deras. Kalau tidak kau pasti tak akan menepi dan berdiri di samping ku. Aku Anya, aku pernah menyukaimu dan tak pernah menyampaikan apa-apa. Kau teman satu angkatanku dulu waktu smp, kau teman sekelasku selama tiga tahun. Aku ingat semua itu. Tidak, aku hanya berusaha tetap mengingatnya.  
Hari hujan itu mungkin takdir bagiku karena aku pernah berjanji akan menyampaikan perasaanku ini agar aku bisa tenang. Agar aku lega dan bisa mencintai pasanganku tanpa mengingatmu lagi. Aku akan menyampaikannya. Tapi saat itu kau mengejutkanku, kau sepertinya tidak mengenali diriku. Aku hanya bisa tertunduk bisu di sebelahmu menunggu hujan reda. Sejak saat itu aku selalu datang ke cafe tempatmu bekerja, aku selalu saja memesan kopi pahit. Rasanya tak enak, selalu saja membuatku ingin menangis. Aku selalu merasa ada kesedihan yang mengalir di kerongkonganku, setiap kali aku meneguknya. Rasanya menyesakkan. Dan akhirnya, kau mendapatiku sedang menangis. Padahal niat awalku memesannya agar aku tak mengingatmu, agar aku hanya mengingat Kopi Pahit ini. Maaf,, sebenarnya hanya ini yang ingin aku sampaikan,
"Dwi aku menyukaimu, itu benar, sampai saat ini aku masih menyukai mu. Aku tak pernah bisa melupakan senyuman-senyuman yang selalu kau terbitkan di wajahmu itu. Selalu saja mengingatnya dan itu lah obat terbaik bagiku saat aku bersedih. Maaf Dwi, aku tak menyampaikan ini sejak dulu ... Maaf aku terlambat mengatakannya .. "  "




Saturday, June 2, 2012

Kau

Aku tersadar akan banyak hal di sekitar hidupku ini. Namun, aku seringkali tertatih untuk melangkah di atas setapak-setapak yang lebih baik. Seringkali aku merasa risih akan keadaanku, jujur sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan kau. Ya, kamu. Kamu, kamu yang sudah lima tahun aku kagumi. Iya, itu kamu.
Mau sampai kapan kau terus saja bersikap baik seperti ini? aku akui, terakhir aku berbicara denganmu adalah tiga tahun lalu. Kau, kau selalu saja membuatku menangis. Tapi, kau juga selalu membuatku tertawa. Kau sering membuatku bahagia. Meski kau tak tahu itu. Aku yakin kau tak menyadari hal ini.

"Kau", masihkah ada kesempatan bagiku?
Sudah terlalu banyak waktu yang aku habiskan untuk mengulur-ulur perasaan ini. Mungkin saja aku tak akan sampai di penghujungnya, tapi aku menginginkannya.
Mungkinkah kau membenciku, atau kau hanya mengacuhkan ?? sepertinya tak ada kata" yang tepat untuk mengungkapkan keadaanku saat ini.
Tapi, sepertinya, umm.. bukan, bukan. Tentunya, aku memang masih menyukaimu. "Kau" yang selalu membuat berdebar hanya dengan duduk berdekatan, "Kau" yang selalu membuatku tak mampu mengatakan apapun hanya dengan duduk bersama dan "Kau" yang sampai saat ini masih terlihat jelas di pikiranku bahwa aku masih menyukaimu..

Monday, May 14, 2012

Manis (fiksi)

                   Pertemuan itu adalah anugerah Tuhan. Aku dipertemukan olehmu dan aku merasa semua itu adalah momen spesial. Tak terhitung berapa banyak waktu aku habiskan untuk mengagumimu. Tapi Tuhan punya rencana lain, kau pergi , kau hilang tertelan tanah bumi ini. Kau meninggalkanku selamanya, meninggalkan kenangan tentang kita yang selalu mengumpulkan kasih sayang. Aku menangis, menangis saat melihatmu tertidur lelap di sana. Pejaman matamu seolah mengartikan kau akan menghilang dari sisiku, kau akan menemui Tuhan. 
             Cinta, apa kau akan meminta izin pada-Nya, untuk tetap di sisiku? Apa janji sepanjang waktu bersama itu akan kau tepati? Aku tak akan terus menangisimu, aku tak akan melakukan itu karena aku tahu tangisanku adalah penghambat ketenanganmu untuk ada di sisi Tuhan. Aku tak ingin terus-menerus menaburkan kepedihan dalam perjalanan cinta kita ini. Aku tak ingin kau juga menangis karena meninggalkanku. Tersenyumlah cinta, aku tahu, aku percaya, kau akan tetap di sisiku meski aku tak bisa menyentuh ragamu. Kau tetap menjadi bagian dari sejarah manis hidupku ini dan akan selalu hidup dalam hatiku. Terima kasih atas semua kenangan yang kau berikan, meski ada kepedihan, meski kau tak ada, itu tak sebanding dengan semua kenangan yang amat manis yang sudah kau berikan. Cinta, aku yang menjadi pengagum abadimu ini, akan selalu berterima kasih karena kenangan itu terasa lebih manis dari apapun. 

NanoNano-GadoGado


                Dari ribuan kata yang pernah ada di dunia, ada beberapa yang selalu ingin aku katakan padanya. Mungkin waktu yang terlewat ini sering kali membuatku pesimis akan akhirnya. Tapi aku benar-benar ingin menyampaikan ini padanya, sejak dulu, sejak aku merasakan debaran yang selalu saja terasa naik turun di dadaku setiap bertemu dengannya. Yah, jadi teringat kembali masa-masa itu. Sebenarnya aku sudah sangat lama ingin memberikan cap “CaseClosed” di kisahku satu ini. Namun, pada akhirnya tetap saja bersambung seperti sinetron Indonesia pada umumnya.Haha..
Kali ini, haruskah aku kerahkan semua rasa percaya diri dan keberanianku ini?? Haruskan aku lakukan untuk menyatakan perasaanku?? Semuanya membingungkan. Aku pernah mengalami hari-hari dimana aku merasa dekat dengannya, selalu berdebar menunggu balasan darinya. Aku senang saat membaca semua inbox darinya, meskipun semua itu hanyalah obrolan biasa antara aku dan dia. Sungguh terasa saat itu adalah momen yang tak akan bisa aku lupakan. Semuanya terasa mengalir perlahan dalam perasaanku, aku bisa merasakan ketertarikan yang kuat dariku padanya. Aku terus saja memujinya dalam hati, terus saja mengingatnya dalam memori ini. Semua pesan darinya adalah hal yang istimewa, aku terus saja menganggap seperti itu. Yah, balasan itu seperti penyegar untuk perasaanku, seperti panah yang tepat mengenai hatiku, membuatku bisu beberapa detik untuk terkagum-kagum akan hal konyol seperti ini. Aduh, rasanya aku sangat menyukainya, yah, DULU aku memang menyukainya. :]
Sepertinya semua obrolan tentang kenangan masa lalu ini sudah membangunkanku dari tidur panjangku dalam sebuah penantian. Ah, penantian padanya ini mungkin memang tak berujung. Aku yakin seperti itu, aku tau karena aku yakin Tuhan tidak akan memberikan lelaki seperti dia dalam hidupku, yang hanya bisa membuatku selalu memilin waktu , yah menunggu. Tuhan pasti memberikan suatu hadih besar dalam penantianku, hadiah untuk akhir semua kisah cinta yang sering kali tak berpihak pada keadaan. Terima kasih , kau telah, ah tidak, kau sudah memberikan suatu momen berharaga dalam hidupku. Sebuah kenangan yang selalu bermain liar dalam imajinasi sederhanaku. Sejak dulu aku ini menyampaikan ini, semua kata ini sudah aku siapkan sejak dulu, bukan lebih tepatnya sejak aku merasa tertarik padamu karena kau mulai me-restart kembali isi otakku bahwa menyukai itu indah,
“Teman, mungkin kau menyadarinya, tapi aku berdoa kau tak sadar akan ini. Aku tak butuh itu. Aku tak ingin kau tahu bahwa aku memang menyukaimu. Mungkin, kau sering menemukanku sedang mengangumimu, tapi jangan jadikan hal itu alasan kau dan aku tak bisa berteman. Aku wanita, ya, makhluk ciptaan Tuhan yang super duper hebat bisa menutupi perasaan, dan bertingkah seolah tak pernah ada apa-apa. Aku hanya ingin kau tetap bersamaku,, TANPA ADA YANG SPESIAL TENTUNYA, HANYALAH ISTIMEWA.”
Hug and kiss,
YoouNii

Thursday, May 3, 2012

NanoNano-GadoGado


     Sebenarnya apa yang ingin aku sampaikan sederhana, hanya beberapa kata yang sangat mudah untuk dirangkai. Namun, aku masih saja menyumbat keinginan untuk menyampaikan kata-kata itu. Sebagian orang akan menganggapku terlalu muluk, kuno, atau apalah itu yang sama sekali tak aku butuhkan untuk saat ini. Yah, orang-orang itu BEGO mengataiku, mereka itu memang SEDENG selalu memandang rendah orang lain. Perkataan pahit mereka hanyalah SAMPAH, baunya busuk, memang, tapi yah begitulah TAK PENTING. Aku tak tahu mengapa mereka senang mengatakan hal-hal kejam, HAHAH.. tak penting juga sih.
     Balik lagi ke awalnya, aku tak tahu kalau kata-kata itu syulitttt sekali diungkapkan. Eh, syulittt di katakan. Ya, yah, syulittt.  
     Umm.. mungkin inilah yang sebaiknya aku lakukan saat ini (sebelum momen pengungkapan terjadi), aku mencuci tangan dan kakiku, menggosok gigi, dan segera tidur. Besoknya aku akan menyeka keringatku saat aku berolahraga, menata rapi lemari bajuku, dan menyisakan sebagian uang jajanku untuk membeli heels, eh, aku juga butuh beberapa rupiah untuk membeli komik. Sejenak saja melupakan hal-hal berbau “rumit” itu. Sepertinya menikmati 2-4 bungkus es nyonyaBesar menyenangkan. Nikmat rasanya memikirkan sesutu yang enak. Yah, itu salah satu dari 4 hal yang paling aku suka. Sesuatu yang  ENAK, LUCU, MISTERIUS, berbau HARUM.
     Wew, sepertinya aku melupakan sesuatu. Apa ya??  HAHA
Entahlah, sepertinya kata-kata super itu ya. Suatu pengungkapan yang terpenting sepanjang sejarah percintaanku. Ealah, kok jadi ngawur.. jan, jadinnya seperti membuat cerita komedi yang jayus.. fuuh
Cukup sampai di sini dulu deh tentang NanoNano-GadoGado Ku..

 to be continue ..

Saturday, February 11, 2012

3days before Valentine

Kadang pemikiran itu membuat seseorang terlihat rumit. Seperti halnya kesempurnaan. Jika hal itu diungkapkan dalam berbagai sudut pandang tentunya sulit untuk kita dapatkan titik temunya. Aku selalu bermimpi memiliki pangeran ideal yang selalu bisa mengatasi ketakutanku, yang bisa membuat diriku nyaman disaat aku gelisah, yang bisa memberikan aku sebuah jawaban disaat aku memerlukannya.
Dan lagi disaat aku ingin mencarinya ada seseorang yang mengusik pikiranku. Semua hal, perilakunya, perkataanya seolah-olah ditujukan padaku. Tapi sampai saat ini aku belum bisa menemukan kepastian darinya. Jika yang dikatakan teman-temanku memang benar, seharusnya dia ambil tindakkan. Jangan membiarkan perasaanku ini berada di antara. Benar tidak??
Namun, semua keinginanku untuk tau apa yang terjadi sesungguhnya tiba-tiba hilang. Tadi sore, tepat pukul empat aku membuka post darinya. Aku baca perlahan. Tapi kata-kata yang ada hanya kepedihan, sesuatu yang sepertinya sulit untuk aku mengerti. Hal yang tergambar dalam post itu terlihat sangat pedih, membuatku merasa bersalah.
"Aku sadar jika aku terlihat sangat naif dengan sikap malu-malu yang aku tunjukkan. Aku pun terlalu bodoh mengira dia menyukaiku, tanpa memikirkan perasaanya. Maaf BB, hidup memang penuh rahasia dan untuk yang satu ini aku tak mau mengungkapnya. Aku tentunya. entahlah.. mungkin terlalu takut menerima kenyataanya."
Jika saat itu tiba untukku, aku berharap Tuhan mengantarkan kau kepadaku. Dengan perasaanmu yang penuh, yang kau siapkan untuk diriku.
hoping we'll be closer and being together <3

Monday, January 9, 2012

Kanggaoru Cinta

"Kakak, kakak, kamu tau ngga ini apa?", tanyaku sambil menunjukkannya.
"Apa itu?"
"Ini .. salah satu bagian dari hatiku, yang aku simpan buatmu Kak!", jawabku mantab.

Thursday, November 24, 2011

Alektrik

Kamu Kenapa ngga pernah sadar aku tuh ada di dekat kamu..

Kamu tau, d’nomiad itu kadang membuatku gelisah. Alektrik yang kamu pakai kenapa ngga pernah kau pakai untuk menanyakan kabarku. Bertanya sesuatu tentang jadwal esok hari, atau menceritakan hal yang lucu bagimu. Aku mendengarkan kok ..
Karena aku sadar, aku juga seperti itu. Bagiku ada banyak kata-kata di dunia ini yang tak bisa aku katakan, dan tiga diantaranya adalah 
AKU . SUKA . KAMU ,

Wednesday, November 23, 2011

Katalisator Cinta

waktu itu, aku tak sengaja bertemu pandang dengannya. Entah kenapa, saat itu juga dadaku terasa sesak. Kemudian aku memalingkan mataku secepat mungkin, menyembunyikan mukaku yang merona kerena tersipu.
Aku tak tau kenapa aku bisa tersipu hanya karena mata kami bertemu pandang. Dan reaksiku terjadi cepat, tak butuh katalisator untuk mempercepatnya. Aku hanya merasakan dadaku berdebar tak wajar, aku merasa senang... senang sekali disini.


After that moment, aku sering mendapati diriku tertawa kecil meski tak ada hal lucu untuk aku tertawakan. Aku tersenyum, dan semua itu terjadi tanpa alasan apapun.
Kadang aku berpikir, apakah aku ini sedang jatuh CINTA? Apakah saat ini aku sedang menyukainya?
Mungkin saja, karena jatuh cinta itu seharusnya merasa bahagia kan, bukan sebaliknya ... :D

Monday, March 28, 2011

Part V, ...

            Kupandangi terus boneka lucu itu. Matanya yang bulat besar seolah-olah berbinar-binar saat menatapku dan pita merah dilehernya membuatnya terlihat semakin manis. Tak pernah terpikirkan dalam benakku akan mendapatkan hadiah semanis ini dari seorang cowok. Dan terlebih lagi, aku menjadi berdebar-debar dibuatnya.
          Apa aku harus mengakhiri kebohongan ini, berbohong pada perasaanku dan mungkin membohongi Setya, my Mr. Money. Arrgh.. kini aku mulai mengigau. Aku berpikir macam-macam tentang hubungan tiba-tiba ini dengan Setya. Maksudnya, kenapa sekarang aku merasa dekat dengan Setya dan aku merasa saat ini aku terus memikirkannya. Dan aku berbohong pada diriku sendiri. Aku tak mau mengakui bahwa aku menyukainya. Yah, perasaan ini memang rumit.
          “Tata, ayo makan dulu! Kado dari Setya jangan diliatin terus dong sayang..”, panggil mamaku tiba-tiba. Lalu mama duduk di sebelahku, dan membelai kepalaku lembut.
          “Mama, bikin kaget aja deh.”
          “Sayang, kamu suka dia yah? Mama tau dari matamu dari setiap ekspresimu saat kamu bercerita tentang Setya. Mama nggak marah kok, tapi kamu janji, kamu harus jaga diri dan jangan pernah kamu menyakiti perasaan orang lain..”, ucap mamaku lembut. 
          “Hah, engga kok ma! Beneran deh. Tata Cuma anggap dia temen baik tata, yang uda rela-relain beliin Tata kado ultah. Dan yang selama ini udah buat jantung Tata berdebar-debar dan pipi Tata merah sama panas kalau Tata ketemu dia .. UPS….!”, aku keceplosan. Aku terus aja nerocos tentang apa yang aku alami selama ini. Oh tidak, mama pasti akan berpikir macam-macam.
          “Hahaha.. tuh kan Ta. Kamu juga akui kalau kamu suka Setya, tanpa sadar lagi. Gini sayang, kalau kamu suka seseorang akui saja, walaupun kamu belum yakin. Membohongi perasaan itu ngga enak lho. Mama yakin kamu pasti bisa menemukan jawaban pastinya.”, mama mengatakan hal tersebut dengan lembut. Tak ada tanda menggodaku seperti biasa. Ucapannya terasa nyaman untukku dengar. Dan tanpa sadar aku menangis dan mengatakan, “Aku sayang mama..”. Dan mama pun langsung memelukku erat.
          Perasaan ini rumit. Beberapa hari yang aku lalui dengan Setya sudah dapat membuat pintu hatiku terbuka. Mencoba untuk menatap Setya dan merasakan setiap kasih sayang dan perhatiannya, walau ragu-ragu selalu datang disetiap aku akan memulainya. Seperti kata mama, aku pasti bisa menemukan jawaban pastinya. Aku tau perasaan sukaku ini pasti istimewa dan aku tak mau untuk tak menghargai ini.
          Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memantapkan sesuatu dengan ketidak percaya dirian. Aku gelisah, khawatir, dan ragu akan perasaan ini. Namun, aku meyakinkan diriku untuk menerimanya saja. Yang aku pikirkan, perhatian yang Setya berikan padaku aku anggap sebagai perhatian seorang teman. Walau pada akhirnya aku berharap lebih karena aku tak mau perasaanku ini bertepuk sebelah tangan. Aku tak mau kecewa seperti dulu, dibohongi oleh khayalanku dan aku termakan oleh kenyataan.
          “And I hate how much I love you boy, I can’t stand how much I need you boy …”, tiba-tiba nada tanda pesanku berbunyi. Kubaca pesan masuk itu dan sudah aku pastikan sebelumnya itu adalah pesan dari Mr. Money. Ugh ..
          “Tata, aku ada kabar baik ..”, pesan yang singkat darinya dengan beberapa emoticon smile menyertainya. Aku heran, apa maksudnya dengan kabar baik. Apakah itu kabar baik untukku atau dia, aku tak tahu. Saking penasarannya aku pun membalasnya. Dan tiba-tiba nada dering handphoneku berbunyi.
          “Haloo..”, sapaku manis.
          “HAI TA ..,” jawab orang di sebrang sana. Suara yang khas dan sudah tak asing lagi di telingaku. “SETYA”.
          “Apa Ya, suaramu kenceng banget! Lagi dimana sih?”
          “Oh sorry, lagi di stasiun mau jemput mama. Tadi kan aku ke sekolah, eh ketemu Aden ama Gatot katanya kita jadinya pergi ke Boom Boom Pool. Asik kan tuh ..”
          “Waah.. Horree..!!”, jawabku kegirangan. “Terus mau kapan perginya?”
          “Besok Kamis ya, jam delapan uda pada kumpul di sekolah. Bisa ngga?”
          “Bisa, bisa.. Makasi Ya udah dikabarin. Kok Aden sama Gatot ngga sms aku sih ya..”
          “Ok, bye Ta. See you soon yah!”
          Yippieee.. Besok kamis jalan-jalan bareng anak kelas. Hal yang paling aku tunggu-tunggu selama liburan. Semoga saja kamis besok adalah hari yang menyenangkan dan bisa aku jadikan bahan cerita untuk tugas essayku. Terima kasih Tuhan .. :)

Saturday, January 1, 2011

Dear 1st January,

Hari ini tanggal 1 January 2011, hari pertama di tahun 2011 tercinta ini. Harapanku,, impian, cinta, karir, kehidupanku, baik akhirat dan duniawi, masih banyak yang belum aku penuhi. Aku akan berjuang menghabiskan waktuku di 2011 dengan banyak kegiatan positif dan bermanfaat untukku. Dan yang paling aku harapkan adalah aku dapat mencapai cita-citaku, aku sukses dalam urusan sekolah, dan aku menjadi anak dan murid yang lebih baik dari sebelumnya. Dan sebagai hamba Allah, aku akan beribadah sebaik-baiknya, mendekatkan diri kepada-Nya. Tahun ini aku menaruh banyak harapan pada diriku. Aku harus yakin, percaya, berusaha, agar aku bisa mewujudkan semua itu.
          Yah, mungkin karena hidup ini tak seindah cerita dongeng, aku tak akan berharap muluk-muluk. Terbaik, itu sudah cukup. Masalah cinta mungkin tak perlu terlalu dipikirkan. Aku hanya perlu untk lebih konsentrasi pada sekolahku. Bahkan akhor-akhir ini aku mulai merasa mual bila mendengar tentang cinta-cinta dan semua yang berhubungan dengannya. Padahal sebelumnya aku banyak menulis lagi cinta.. Perasaan manusia itu rumit ternyata. Tidak mudah ditebak, lebih tepatnya.
Tanggal 1 Januari 2011, aku harap aku memulainya dengan baik… ^^

Monday, December 13, 2010

Saat Hari Hujan

Jalanan itu sepi, tanpa ada satu suara pun singgah di sana
Kemudian hujan pun turun, menjawab semua doa orang-orang yang butuh kedatangannya
Terlihat semak-semak bermain bersama angin yang mengibas-ngibaskan ujung mereka
Lambaiannya cantik, seolah-olah mengajak kita untuk mendekat
Pasukan semut datang berbondong-bondong membawa manisan dia atas tubuh mereka
Komandan berjalan di depan sambil menggoyangkan pinggul besarnya
Untuk sekarang jalanan itu tak lagi sepi
Banyak yang datang, banyak pula yang meramaikan
Seperti dunia ini, menjadi berarti saat banyak yang mengisi dan memahami keragaman yang mendekap kuat kehidupan di atasnya



Pages