Malamnya aku bener-bener nggak bisa tidur. Padahal aku selalu inget pesan Bang Rhoma yang nggak memperbolehkan kita begadang begini. Tapi gimana lagi, aku nggak bisa berhenti mikirin hal itu. Seolah-olah semua yang terjadi padaku itu adalah sinyal bahwa aku lagi jatuh cinta. Dan parahnya si Mr. Money yang jadi korbannya. Maksudku, orang yang sudah membuat aku jatuh cinta. Tapi rasanya berat buat aku mengakui kalau aku memang suka padanya. Oh Tuhan, aku bingung harus berbuat apa. Kalau aku suka seharusnya aku tak benci atau menghindar seperti ini.
Sekarang sudah tiga hari aku dihantui perasaan seperti itu. Perasaan yang sepertinya sudah membuat diriku hang, seperti computer butut sekolahku. Tapi sehari tak bertemu dengannya rasanya sepi. Entah karena aku benar-benar menyukainya atau karena senang ada temanku yang datang meramaikan rumah. Tapi setelah dipikir-pikir lagi ternyata aku terlalu sibuk memikirkan hal-hal seperti ini. Sebaiknya aku cepat-cepat selesaikan tugas essayku yang akan aku kumpulkan nanti. “Arrgh.. Banyak banget sih urusanku ..”, pikirku kesal.
Tiga jam berlalu, dan aku masih terpaku di depan komputerku ini. Masih banyak yang harus aku tulis di dalam essayku itu, dan lagi-lagi aku ada dalam situasi bingung. Coba saja Setya datang, pasti akan langsung aku paksa dia bantu-bantu. Sudah tiga hari ini Setya nggak datang ke rumah. Padahal sebelumnya dia sering sekali datang kerumahku. Entah karena ada perlu denganku, atau ada yang ingin dia ceritakan, atau juga karena persoalan liburan bareng. Sepertinya dia juga sudah buat aku kangen sama dirinya. Ugh, konyol banget. Ada juga yah ternyata kasus kangen sama si Mr Money. Hihihi..
“TATAAAA ……. Woooyy..!!”, teriak seseorang.
Sumpah, teriakan orang yan satu itu kenceng banget. Bikin berisik, ganggu orang, dan bikin malu juga. Apa dia nggak tau teriak-teriak di siang bolong begini itu ganggu orang, yang dipanggil namanya kan juga malu. Arrgh.. malu-maluin banget sih tuh orang. Dan aku langsung tersadar kalau itu si Mr. Money, Setya.
“Aduh Ya, kalau mau ketemu aku nggak usah pake teriak-teriak. Udah gitu pake namaku segala juga, ada apa sih?”
“Hehehe.. Ini Ta, aku mau ngasih ini ke kamu. Kelamaan kalau aku ngasihnya harus pake ketok pintu sama masuk rumah. Kalau langsung manggil kan cepet, kamu langsung keluar...”
“Iya, iya. Tapi kalau kamu digebukin orang seperumahan gimana??”
“Udah ah, case closed. Yang penting kamu uda dapet kado dari aku kan Ta, Happy BeDay yah..”
O. M. G!!! Aku dapet hadiah, dapet ucapan selamat, dan itu langsung dari Setya. Sesaat aku bingung, yah aku bener-bener lupa sama hari ultahku. Aku cukup senang, cukup senang sampai aku bisa melayang. Mungkin..
“Hoiii… wake up girl, dikasih kado kok malah diem. Bilang terima kasih kek, peluk aku kek, atau nangis bahagia gitu napa..”, teriak Setya padaku.
“Hah.. Oh.. Eeeeehhhhh, ogah ah kalau aku harus peluk-peluk kamu, bukan mukhrim tau..”
“Kalau gitu kita nikah aja biar jadi mukhrimnya. Gimana??”
“Becanda kamu, aku masih muda, masih banyak yang harus aku lakuin selain nikah sama kamu..”
“Aku emang becanda kok… Hehehehe…”
“Syukurlah… Tapi thanks berat ya Ya..”, ucapku lega sambil tersenyum manis. Mungkin itu senyum termanis yang pernah aku kasih ke temen cowokku.
Tapi kok aku jadi kepikiran sama omongannya itu ya, dia kan cuma bercanda ngga seharusnya aku berlebihan memikirkan candaannya itu.
“Umm.. Ta, aku pamit dulu yah. Semoga kamu suka sama kado dari aku. Tenang aja Ta, aku nggak akan ngecewain kamu kok.. Langsung dibuka ya, aku mau denger komen kamu, bye……”, pamit Setya sambil berlalu.
Ugh, lagi-lagi dia bilang sesuatu yang buat mukaku ini merah. Dia ini ngeledek atau apa sih, aku bingung. Sama seperti hari-hari kemarin.
Sesampainya aku di kamarku, aku langsung buka kado dari Setya itu. Wow, boneka Teddy... Boneka kesukaanku sejak aku TK. “Hebat juga dia bisa tau boneka kesukaanku.. Aku sama sekali nggak menyangka kalau orang pelit kayak Setya mau beli boneka lucu begini .. Hihihi.. ”, batinku geli. Yah, setidaknya boneka ini nggak lebih kecil dari miss. Tuddy punyaku.
***