Thursday, June 21, 2012

3 WAKTU



Sebenarnya banyak yang belum aku tau dan pastikan. Jika selama ini aku hanya hidup bersama pemikiran-pemikiranku, berarti aku tak beruntung. Kadang aku berharap dengan pemikiran inilah aku bisa menemukannya, menemukan *****. Tapi pemikiran-pemikiran ini tak cukup membantuku. Ada hal lain yang aku butuhkan dan aku tak bisa mendapatkannya sampai saat ini juga. Apakah harus aku lewati kembali masa laluku sebagai waktu yang pertama? Tapi itu membosankan. Hanya dipenuhi anggapan palsu sekitarku dan pemikiranku yang berusaha berdiri meski rasanya lemah. Aku belum menemukan apapun saat itu.

Waktu keduaku adalah saat ini. Aku bernyanyi, merangkai kata-kata untuk laguku yang sepenuhnya adalah ungkapan hati yang terkunci. Aku menyukai saat ini, aku menyukai waktu yang kedua ini. Tak lagi berdiri sendiri bersama pemikiran kaku itu, ada banyak yang membantu. Entahlah, hanya saja bantuan itu tak bisa aku lihat tapi aku yakin aku merasakannya, sesuatu yang dapat meringankan hatiku yang terasa berat ini. Aku berharap banyak jika itu adalah yang dinamakan *****. Manis, meski nantinya bisa menjadi pahit. Haaaaaaaah...

Terakhir, waktu ketigaku, nanti. Bukan yang akan datang, tapi nanti. Aku ingin cepat-cepat ada disana. Nanti, disaat aku benar-benar bisa menemukannya, menemukan *****. Nanti, disaat aku dan temanku bisa bersama pula. Nanti, disaat dia tak menyakiti siapapun tak terkecuali aku. Nanti, saat aku cukup berani untuk menanggalkan pemikiranku. Nanti, ketika perasaanku tak akan cukup untuk akau gambarkan dalam setiap lagu yang aku buat. Dan Nanti, jika aku yakin bahwa ***** adalah tanda untuk "CINTA".
Loving you make me happy everyday~Larc`en Ciel

SEDIKIT


Waktu itu sepertinya berjalan cepat. Sekelebat bayangan tentang masa itu membuyarkan lamunan siangku. Aku hanya bisa menghela nafas panjang, berharap ada mesin waktu jatuh dari langit dan mengubah seluruh hidupku.
Apa ya yang aku rasakan? aku selalu bertanya ini itu pada diriku. Aku hanya merasa RASA itu hanya sebuah angan-angan yang menidurkanku dalam sebuah mimpi yang panjang. Seolah-olah aku tak akan terbangun, tak ingin terjaga. Selalu saja aku merasa nyaman di dalam dunia khayalanku.
Aku selalu menjadi nomor satu, selalu menjadi perhatian yang menarik setiap simpati (bukan iba yang selalu saja membuatku terlihat bodoh). Intinya, khayalanku selalu saja sama seperti waktu itu. Waktu dimana aku mencoba untuk tak menjadi diriku, menjadi disukai bukan karena sifatku, waktu dimana aku dicintai bukan karena cinta sesungguhnya dalam diriku. Aku, saat itu, seperti amplop bersegel lilin yang tak pernah terbuka. Selalu terlihat menarik tapi tak ada yang tau seperti apa isi sesungguhnya. Selalu dijaga, tanpa tau apa yang mereka jaga. Tapi saat ini, masa dimana aku menjadi diriku, tapi tak ada yang mau mengerti. Sepertinya mereka lupa akan diriku dulu. Mereka tak pernah mengingatku, tak pernah ingat ada aku di dalam hidup mereka. Tak pernah sekalipun menyimpan kenangan tentangku di dalam pikiran mereka. Mereka tak menyisihkan tempat bagiku di hati mereka.
SEDIKIT saja , jika ada SEDIKIT saja RASA itu, aku akan bahagia.. Kepergianku tak akan sia-sia. Kenangan tentangku akan terus diingat, meski aku mati tapi kenangan tentangku akan tetap hidup di dalam diri mereka. Menjadikan keberadaanku bukan sesuatu yang sia-sia pula. Bukan sesuatu yang akan aku sesali untuk tinggal di antaranya, diantara CINTA dan RASA-RASA yang ada di dunia.

Friday, June 8, 2012

Kopi Pahit

Sejenak dia hanya berpaling dari cangkir merahnya itu, memandang sekeliling dan tersenyum tipis. Dia pun kembali  menyeruput kopi hitam pesanannya tadi. Ekspresinya yang menahan pahit terlihat menarik bagiku, lalu tiba-tiba dia tersedak, batuk, dan berlari ke kamar kecil. Tanpa sadar aku mengikutinya. Berlari terburu-buru mengikuti iramanya yang tergesa-gesa. Aku berhenti. Menunggunya di balik pintu kamar kecil untuk pria. Ah, aku tak tahu apa yang terjadi. Rasanya janggal, aku mengikutinya seperti penguntit, aku mengendap-endap dan bersembunyi hanya untuk melihat keadaanya.
"Klek" Pintu kamar mandi itu terbuka. Aku melihatnya, jelas dengan kedua mataku ini dia menangis, matanya memerah dan tisu itu selalu saja diusap-usapkannya dengan buru-buru ke arah matanya.
"Hiks" Aku mendengarnya. Dia memang menangis.

Dari balik pintu aku terus memperhatikan dirinya. Aku mulai berimajinasi, mungkinkah dia menagis karena seseorang yang ditunggunya tak juga datang, atau karena dia memang sedang bersedih dan datang ke kafe ku, atau.. kopi kafe ku ini memang tak enak? Oops, imajinasiku mulai mengoceh tak jelas. Aku menahan nafas dalam. Aku beranikan diri untuk menghampirinya yang sedang sibuk mengusap air matanya dan ingusnya yang meler itu.
"Permisi, mba nggak apa-apa?", tanyaku dengan pelan. Sangat pelann ...
"ah, hah .... um.. Enggak, saya baik-baik saja", jawabnya cepat sambil terburu-buru menuju mejanya.
Yah, mungkin aku yang terlalu kepikiran tentang cewe itu. Apalagi dia pengunjung setia kafeku akhir-akhir ini, dan yang dipesannya selalu saja kopi pahit. Cuma ngopi terus dia balik , dateng cuma ngopi terus balik, kapan makannya.

Esok harinya aku berangkat pagi. Hari ini ada tamu spesial datang ke kafe kecil ku ini. Sepertinya dia akan membawa pasukannya seperti tiga bulan yang lalu. Memesan kafe ini satu hari penuh, dan meng-order semua makanan khas kafe ku, tak ketinggalan kopi pahit itu. Hahaha..
Aku pun menyiapkan semuanya terlebih dahulu sebelum semua karyawanku datang dan membantu. Aku merapikan meja-meja pelanggan dan dapur. "Yap, semuanya cukup bagus. Biar karyawan ku aja ah yang nyelesein.", ucapku penuh rasa bangga dan puas.
Aku pun kembali ke dapur, mengambil tempat sampah yang kurang lebih sudah cukup penuh. Aku berniat membuangnya. "KlingKlong", aku buka pintu belakang kafe ku. Tanpa aku sadari seseorang sudah ada di belakangku, dia menepuk pundakku dan memberikanku sebuah surat. Aku menoleh, samar-samar aku mengenali dirinya yang sedang berlari terburu-buru menuju pintu depan. Aku pun mulai membaca kertas biru laut itu. "Tes .." Hah?! Aku menangis. Aku .. Air mataku perlahan turun berurutan , perlahan membasahi kertas biru laut yang ada di tanganku itu.
Dia menuliskan hal yang begitu meresahkan hatiku, merajuk pelan kepadaku.



"Kalau saja saat itu hujan hanyalah rintik-rintik mungkin aku tak akan pernah bertemu denganmu. Untung saja saat itu hujan deras. Kalau tidak kau pasti tak akan menepi dan berdiri di samping ku. Aku Anya, aku pernah menyukaimu dan tak pernah menyampaikan apa-apa. Kau teman satu angkatanku dulu waktu smp, kau teman sekelasku selama tiga tahun. Aku ingat semua itu. Tidak, aku hanya berusaha tetap mengingatnya.  
Hari hujan itu mungkin takdir bagiku karena aku pernah berjanji akan menyampaikan perasaanku ini agar aku bisa tenang. Agar aku lega dan bisa mencintai pasanganku tanpa mengingatmu lagi. Aku akan menyampaikannya. Tapi saat itu kau mengejutkanku, kau sepertinya tidak mengenali diriku. Aku hanya bisa tertunduk bisu di sebelahmu menunggu hujan reda. Sejak saat itu aku selalu datang ke cafe tempatmu bekerja, aku selalu saja memesan kopi pahit. Rasanya tak enak, selalu saja membuatku ingin menangis. Aku selalu merasa ada kesedihan yang mengalir di kerongkonganku, setiap kali aku meneguknya. Rasanya menyesakkan. Dan akhirnya, kau mendapatiku sedang menangis. Padahal niat awalku memesannya agar aku tak mengingatmu, agar aku hanya mengingat Kopi Pahit ini. Maaf,, sebenarnya hanya ini yang ingin aku sampaikan,
"Dwi aku menyukaimu, itu benar, sampai saat ini aku masih menyukai mu. Aku tak pernah bisa melupakan senyuman-senyuman yang selalu kau terbitkan di wajahmu itu. Selalu saja mengingatnya dan itu lah obat terbaik bagiku saat aku bersedih. Maaf Dwi, aku tak menyampaikan ini sejak dulu ... Maaf aku terlambat mengatakannya .. "  "




Saturday, June 2, 2012

Kau

Aku tersadar akan banyak hal di sekitar hidupku ini. Namun, aku seringkali tertatih untuk melangkah di atas setapak-setapak yang lebih baik. Seringkali aku merasa risih akan keadaanku, jujur sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan kau. Ya, kamu. Kamu, kamu yang sudah lima tahun aku kagumi. Iya, itu kamu.
Mau sampai kapan kau terus saja bersikap baik seperti ini? aku akui, terakhir aku berbicara denganmu adalah tiga tahun lalu. Kau, kau selalu saja membuatku menangis. Tapi, kau juga selalu membuatku tertawa. Kau sering membuatku bahagia. Meski kau tak tahu itu. Aku yakin kau tak menyadari hal ini.

"Kau", masihkah ada kesempatan bagiku?
Sudah terlalu banyak waktu yang aku habiskan untuk mengulur-ulur perasaan ini. Mungkin saja aku tak akan sampai di penghujungnya, tapi aku menginginkannya.
Mungkinkah kau membenciku, atau kau hanya mengacuhkan ?? sepertinya tak ada kata" yang tepat untuk mengungkapkan keadaanku saat ini.
Tapi, sepertinya, umm.. bukan, bukan. Tentunya, aku memang masih menyukaimu. "Kau" yang selalu membuat berdebar hanya dengan duduk berdekatan, "Kau" yang selalu membuatku tak mampu mengatakan apapun hanya dengan duduk bersama dan "Kau" yang sampai saat ini masih terlihat jelas di pikiranku bahwa aku masih menyukaimu..

Monday, May 14, 2012

Manis (fiksi)

                   Pertemuan itu adalah anugerah Tuhan. Aku dipertemukan olehmu dan aku merasa semua itu adalah momen spesial. Tak terhitung berapa banyak waktu aku habiskan untuk mengagumimu. Tapi Tuhan punya rencana lain, kau pergi , kau hilang tertelan tanah bumi ini. Kau meninggalkanku selamanya, meninggalkan kenangan tentang kita yang selalu mengumpulkan kasih sayang. Aku menangis, menangis saat melihatmu tertidur lelap di sana. Pejaman matamu seolah mengartikan kau akan menghilang dari sisiku, kau akan menemui Tuhan. 
             Cinta, apa kau akan meminta izin pada-Nya, untuk tetap di sisiku? Apa janji sepanjang waktu bersama itu akan kau tepati? Aku tak akan terus menangisimu, aku tak akan melakukan itu karena aku tahu tangisanku adalah penghambat ketenanganmu untuk ada di sisi Tuhan. Aku tak ingin terus-menerus menaburkan kepedihan dalam perjalanan cinta kita ini. Aku tak ingin kau juga menangis karena meninggalkanku. Tersenyumlah cinta, aku tahu, aku percaya, kau akan tetap di sisiku meski aku tak bisa menyentuh ragamu. Kau tetap menjadi bagian dari sejarah manis hidupku ini dan akan selalu hidup dalam hatiku. Terima kasih atas semua kenangan yang kau berikan, meski ada kepedihan, meski kau tak ada, itu tak sebanding dengan semua kenangan yang amat manis yang sudah kau berikan. Cinta, aku yang menjadi pengagum abadimu ini, akan selalu berterima kasih karena kenangan itu terasa lebih manis dari apapun. 

NanoNano-GadoGado


                Dari ribuan kata yang pernah ada di dunia, ada beberapa yang selalu ingin aku katakan padanya. Mungkin waktu yang terlewat ini sering kali membuatku pesimis akan akhirnya. Tapi aku benar-benar ingin menyampaikan ini padanya, sejak dulu, sejak aku merasakan debaran yang selalu saja terasa naik turun di dadaku setiap bertemu dengannya. Yah, jadi teringat kembali masa-masa itu. Sebenarnya aku sudah sangat lama ingin memberikan cap “CaseClosed” di kisahku satu ini. Namun, pada akhirnya tetap saja bersambung seperti sinetron Indonesia pada umumnya.Haha..
Kali ini, haruskah aku kerahkan semua rasa percaya diri dan keberanianku ini?? Haruskan aku lakukan untuk menyatakan perasaanku?? Semuanya membingungkan. Aku pernah mengalami hari-hari dimana aku merasa dekat dengannya, selalu berdebar menunggu balasan darinya. Aku senang saat membaca semua inbox darinya, meskipun semua itu hanyalah obrolan biasa antara aku dan dia. Sungguh terasa saat itu adalah momen yang tak akan bisa aku lupakan. Semuanya terasa mengalir perlahan dalam perasaanku, aku bisa merasakan ketertarikan yang kuat dariku padanya. Aku terus saja memujinya dalam hati, terus saja mengingatnya dalam memori ini. Semua pesan darinya adalah hal yang istimewa, aku terus saja menganggap seperti itu. Yah, balasan itu seperti penyegar untuk perasaanku, seperti panah yang tepat mengenai hatiku, membuatku bisu beberapa detik untuk terkagum-kagum akan hal konyol seperti ini. Aduh, rasanya aku sangat menyukainya, yah, DULU aku memang menyukainya. :]
Sepertinya semua obrolan tentang kenangan masa lalu ini sudah membangunkanku dari tidur panjangku dalam sebuah penantian. Ah, penantian padanya ini mungkin memang tak berujung. Aku yakin seperti itu, aku tau karena aku yakin Tuhan tidak akan memberikan lelaki seperti dia dalam hidupku, yang hanya bisa membuatku selalu memilin waktu , yah menunggu. Tuhan pasti memberikan suatu hadih besar dalam penantianku, hadiah untuk akhir semua kisah cinta yang sering kali tak berpihak pada keadaan. Terima kasih , kau telah, ah tidak, kau sudah memberikan suatu momen berharaga dalam hidupku. Sebuah kenangan yang selalu bermain liar dalam imajinasi sederhanaku. Sejak dulu aku ini menyampaikan ini, semua kata ini sudah aku siapkan sejak dulu, bukan lebih tepatnya sejak aku merasa tertarik padamu karena kau mulai me-restart kembali isi otakku bahwa menyukai itu indah,
“Teman, mungkin kau menyadarinya, tapi aku berdoa kau tak sadar akan ini. Aku tak butuh itu. Aku tak ingin kau tahu bahwa aku memang menyukaimu. Mungkin, kau sering menemukanku sedang mengangumimu, tapi jangan jadikan hal itu alasan kau dan aku tak bisa berteman. Aku wanita, ya, makhluk ciptaan Tuhan yang super duper hebat bisa menutupi perasaan, dan bertingkah seolah tak pernah ada apa-apa. Aku hanya ingin kau tetap bersamaku,, TANPA ADA YANG SPESIAL TENTUNYA, HANYALAH ISTIMEWA.”
Hug and kiss,
YoouNii

Thursday, May 3, 2012

NanoNano-GadoGado


     Sebenarnya apa yang ingin aku sampaikan sederhana, hanya beberapa kata yang sangat mudah untuk dirangkai. Namun, aku masih saja menyumbat keinginan untuk menyampaikan kata-kata itu. Sebagian orang akan menganggapku terlalu muluk, kuno, atau apalah itu yang sama sekali tak aku butuhkan untuk saat ini. Yah, orang-orang itu BEGO mengataiku, mereka itu memang SEDENG selalu memandang rendah orang lain. Perkataan pahit mereka hanyalah SAMPAH, baunya busuk, memang, tapi yah begitulah TAK PENTING. Aku tak tahu mengapa mereka senang mengatakan hal-hal kejam, HAHAH.. tak penting juga sih.
     Balik lagi ke awalnya, aku tak tahu kalau kata-kata itu syulitttt sekali diungkapkan. Eh, syulittt di katakan. Ya, yah, syulittt.  
     Umm.. mungkin inilah yang sebaiknya aku lakukan saat ini (sebelum momen pengungkapan terjadi), aku mencuci tangan dan kakiku, menggosok gigi, dan segera tidur. Besoknya aku akan menyeka keringatku saat aku berolahraga, menata rapi lemari bajuku, dan menyisakan sebagian uang jajanku untuk membeli heels, eh, aku juga butuh beberapa rupiah untuk membeli komik. Sejenak saja melupakan hal-hal berbau “rumit” itu. Sepertinya menikmati 2-4 bungkus es nyonyaBesar menyenangkan. Nikmat rasanya memikirkan sesutu yang enak. Yah, itu salah satu dari 4 hal yang paling aku suka. Sesuatu yang  ENAK, LUCU, MISTERIUS, berbau HARUM.
     Wew, sepertinya aku melupakan sesuatu. Apa ya??  HAHA
Entahlah, sepertinya kata-kata super itu ya. Suatu pengungkapan yang terpenting sepanjang sejarah percintaanku. Ealah, kok jadi ngawur.. jan, jadinnya seperti membuat cerita komedi yang jayus.. fuuh
Cukup sampai di sini dulu deh tentang NanoNano-GadoGado Ku..

 to be continue ..

Saturday, February 11, 2012

3days before Valentine

Kadang pemikiran itu membuat seseorang terlihat rumit. Seperti halnya kesempurnaan. Jika hal itu diungkapkan dalam berbagai sudut pandang tentunya sulit untuk kita dapatkan titik temunya. Aku selalu bermimpi memiliki pangeran ideal yang selalu bisa mengatasi ketakutanku, yang bisa membuat diriku nyaman disaat aku gelisah, yang bisa memberikan aku sebuah jawaban disaat aku memerlukannya.
Dan lagi disaat aku ingin mencarinya ada seseorang yang mengusik pikiranku. Semua hal, perilakunya, perkataanya seolah-olah ditujukan padaku. Tapi sampai saat ini aku belum bisa menemukan kepastian darinya. Jika yang dikatakan teman-temanku memang benar, seharusnya dia ambil tindakkan. Jangan membiarkan perasaanku ini berada di antara. Benar tidak??
Namun, semua keinginanku untuk tau apa yang terjadi sesungguhnya tiba-tiba hilang. Tadi sore, tepat pukul empat aku membuka post darinya. Aku baca perlahan. Tapi kata-kata yang ada hanya kepedihan, sesuatu yang sepertinya sulit untuk aku mengerti. Hal yang tergambar dalam post itu terlihat sangat pedih, membuatku merasa bersalah.
"Aku sadar jika aku terlihat sangat naif dengan sikap malu-malu yang aku tunjukkan. Aku pun terlalu bodoh mengira dia menyukaiku, tanpa memikirkan perasaanya. Maaf BB, hidup memang penuh rahasia dan untuk yang satu ini aku tak mau mengungkapnya. Aku tentunya. entahlah.. mungkin terlalu takut menerima kenyataanya."
Jika saat itu tiba untukku, aku berharap Tuhan mengantarkan kau kepadaku. Dengan perasaanmu yang penuh, yang kau siapkan untuk diriku.
hoping we'll be closer and being together <3

Monday, January 9, 2012

Kanggaoru Cinta

"Kakak, kakak, kamu tau ngga ini apa?", tanyaku sambil menunjukkannya.
"Apa itu?"
"Ini .. salah satu bagian dari hatiku, yang aku simpan buatmu Kak!", jawabku mantab.

Pages