Thursday, April 4, 2013

-istilahnya Senja

waktu mungkin seringkali tak mendukungku bertemu denganmu, 
tak banyak dia menyisakan kesempatan bagiku untuk berada di dekatmu. 
Namun, haruskah aku merasa sedih jika memang itu kenyataanya? *meski ada takdir yg bisa mempertemukan aku dan kau
Tapi aku selalu merasa bahagia ketika aku menatap langit sore yang jingga. 
Kehangatan sore yg tak menyengat seprti siang dan angin semilirnya yang sesekali menyentuh lembut kulitku, membuatku senang. Membayangkan momen sederhana ini aku nikmati bersama dirimu,
Duduk berdua dengan secangkir kehangatan di tangan kita masing-masing. Haha .. momen yang kebanyakan  dianggap jadul, tapi mau gimana lagi jika aku menyukainya.
Aku menyukai sang matahari yang malu-malu bersinar di saat sore, menyisakan senja yang selalu aku potret dan simpan untuk kenangan bahagiaku. Aku menyukai sisi senja yang sepertimu, mengantarkanku pada malam, pada ketenangan yang menjaga tidur lelapku. 
Senja seperti kau, 
dia dapat mengukir bahagiaku, seperti kau yang mengukir perasaan ini di hatiku.
Senja mungkin cepat berlalu, tapi dia selalu datang lagi, lagi dan sesungguhnya tak pernah pergi jauh, sama sepertimu.
kini akhirnya ada kesempatanku untuk bertemu .. 



*kau tidak akan pernah tau apa yang Tuhan rencanakan bagi cintamu. Bukalah mata mu, dan aktifkan semua indera yang kau punya, sebenarnya ada pangeran kuda putihmu sedang menunggumu di sana. Di sekitar tempatmu berada.

Wednesday, March 20, 2013

ini PELIK


       Aku hampir saja menangis. Iya menangis, menteskan butiran-butiran air yang pabriknya ada di kelenjar air mata itu. Perasaan itu mengusikkku lagi. Awalnya hanya hal yang rasanya sangat wajar, berdebar pun tidak. Aku hanya merasa tertarik pada apa yang dia tuliskan. Dia mencatatkannya detail, setiap perisiwa kecil yang dia rekam dikepalanya seolah-olah dia bagi denganku dan dia mengajakku untuk menyaksikannya. Hal itu menggugah sesuatu yang sebelumnya terlelap dalam jiwaku, membuat diri ini beranggapan "Dirinya sangat mirip denganku". Seketika perasaan yang sungguh mengganggu itu muncul. Membuatku seperti orang gila. Tak waras dalam mengenali perasaan yang sejatinya aku paham apa itu. 
       Aku merasa sedih. Entah aku merasa duka atas hal apa aku tak tahu. Kata-kata yang dia bagikan dalam ceritanya seolah menyimpan kepedihan. Kepedihan yang menular cepat padaku. Kepedihan yang tercium baunya, muncul dan menyergapku dengan perasaan kacau. 

       Dia sang mata angin, dia sang biru yang pandangannya menyisakan obsesi jiwa menaklukkan dunia. Dia yang bangga akan pendiriannya. Dia yang menjadi utara ketika medanku adalah selatan. Dia yang seketika menyadarkanku bahwa aku akan sia-sia jika tak menaklukkan ketakutanku, aku akan sia-sia jika aku tak memanfaatkan waktuku, aku yang akan menjadi manusia tua tak guna jika aku terus saja menjadi sahabat baik penunda. 
       Bagiku apa yang terjadi saat ini sungguh di luar penguasaanku atas diri. Rasanya pelik, menjadikan dia  guru padahal sepertinya ada perasaan spesial yang tersempil di hatiku untuknya. Yah, toh bisa jadi ini hal yang sementara, Paling-paling akan berganti dan lenyap seperti perasaan tak terdefinisi sebelumnya. 
#sigh

TSY - for good



Friday, February 1, 2013

TIMUR

"kau mata angin 
menjadi penunjuk kilau muncul setengah hari 
kaulah sudut bermula angin yang tak bernyawa 
ketika petang tiba perlahan, 
kau melambaikan padanya untuk menyimpan kilau setengah hari 
kau mata angin yang mengawali 
entah dari suatu irama atau kias suatu nada 
itulah kau ....."


      Padahal bisa saja aku sampaikan dengan kata-kata yang jelas, bahwa aku merindukannya. Ugh, memalukan! xD. Mungkin aku hanya terbawa suasana 'single' yang nyatanya memang sedikit menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi, aku jadi terpikir untuk membuat sebuah puisi tentangnya, maksudku namanya. Hihihi

Pages