Friday, February 1, 2013

TIMUR

"kau mata angin 
menjadi penunjuk kilau muncul setengah hari 
kaulah sudut bermula angin yang tak bernyawa 
ketika petang tiba perlahan, 
kau melambaikan padanya untuk menyimpan kilau setengah hari 
kau mata angin yang mengawali 
entah dari suatu irama atau kias suatu nada 
itulah kau ....."


      Padahal bisa saja aku sampaikan dengan kata-kata yang jelas, bahwa aku merindukannya. Ugh, memalukan! xD. Mungkin aku hanya terbawa suasana 'single' yang nyatanya memang sedikit menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi, aku jadi terpikir untuk membuat sebuah puisi tentangnya, maksudku namanya. Hihihi

Pages