“Sayangnya aku memang tak pernah tahu rasanya jatuh hati dengan benar. Hatiku tak pernah aku siapkan sungguh-sungguh untuk itu. Aku tak pernah merasa hal ini akan menyulitkanku suatu saat nanti. Hingga saatnya kini aku menghadapi keadaan yang mengembangkan hatiku untuk berlapang menerima perasaan seseorang, lagi. Aku hanya tak tahu rasanya itu seperti apa. Aku hanya tak paham dan karena itu aku sering mengabaikannya. Bahkan dengan perhatian sekalipun aku sering melewatkan perasaan jatuh hati seseorang dan perasaan jatuh hatiku. Rasanya masih samar-samar”Bukankah rasanya lucu, salah satu dari kita akhirnya mengatakan perasaannya. Bukankah ini terlalu tiba-tiba. Kita itu masih mencari-mencari hal apa yang bisa menyatukan dua rasa dan pemikiran yang dulunya terpaut jauh. Kita masih menerka apa yang dapat menjadikan kita serasi tanpa disamakan. Kita masih seperti itu.
apakah kau menikmati permainan rasa yang kau mulai sendiri ini? Apakah kau sedang mengajakku memainkannya dan menjadikanku pemenang?
yang aku tahu ketika kita jatuh hati kita akan memainkan keadaan, mengalih fungsikan hati menjadi pemikir yang utama, otak akan menilai belakangan, dan kita akan memenangkannya berdua. Iya, seperti itu.
Andaikan ada kata yang lebih baik untuk aku tuliskan selain ‘aku tak tau’ atau ‘aku masih tak paham’ ketika aku ingin menanggapi pernyataannmu yang bagiku masih samar untuk aku lihat, mungkin aku akan merasa lebih lega ketika kita berdekatan. Mungkin aku tak akan merasa kikuk dan memilin-milih kain bajuku saat kita begitu dekat. Setidaknya itu yang aku bayangkan akan terjadi padaku ketika kita bertemu.
Entah apa alasannya kini aku menulis tentang seseorang yang sebelumnya tak pernah aku kira akan ku jadikan isi tulisanku. Seseorang sepertimu. Keadaan berubah. Perasaan seseorang pun bisa demikian. Semuanya bisa mengacau pikiran untuk tak mengabaikan kebaikan dari seseorang yang dipermudah alam untuk terjadi. Dari beberapa yang pernah aku jadikan penggembira tulisanku, pewarna cerita yang sering kali tak ada tuannya, kau adalah salah satu yang masih sederhana bagiku. Setidaknya itulah yang terjadi di antara kita saat ini. Merasakan perasaan yang sederhana.
Apakah kau pernah tersenyum-senyum sendiri ketika memikirkanku? Apakah kau pernah merasa sesak sendirian ketika kau tak bisa mengatakan apapun padaku? Apa kau pernah merasa menyesal tak menyadari keberadaanku, melewatiku, dan tak menyapaku? Apakah kau merasa begitu bahagia bahkan hanya dengan membaca balasan pesanku?
Lihatlah betapa sederhananya perasaan yang seperti ini yang ternyata bisa terjadi di diri manusia yang jiwanya sering merumitkan segala sesuatunya. Apakah kau mengalami semua itu..
“Aku tak tahu namanya, karena setiap negara menamakannya berbeda. Dan cinta adalah kata universal untuk mencakup itu. Namun cinta tak sesederhana ini, dan tak terlihat remeh seperti ini. Yang ku sebutkan tadi begitu sederhana bukan. Namun tak mungkin kau jelaskan dengan alasan yang begitu sedikit.”