Wednesday, March 20, 2013

ini PELIK


       Aku hampir saja menangis. Iya menangis, menteskan butiran-butiran air yang pabriknya ada di kelenjar air mata itu. Perasaan itu mengusikkku lagi. Awalnya hanya hal yang rasanya sangat wajar, berdebar pun tidak. Aku hanya merasa tertarik pada apa yang dia tuliskan. Dia mencatatkannya detail, setiap perisiwa kecil yang dia rekam dikepalanya seolah-olah dia bagi denganku dan dia mengajakku untuk menyaksikannya. Hal itu menggugah sesuatu yang sebelumnya terlelap dalam jiwaku, membuat diri ini beranggapan "Dirinya sangat mirip denganku". Seketika perasaan yang sungguh mengganggu itu muncul. Membuatku seperti orang gila. Tak waras dalam mengenali perasaan yang sejatinya aku paham apa itu. 
       Aku merasa sedih. Entah aku merasa duka atas hal apa aku tak tahu. Kata-kata yang dia bagikan dalam ceritanya seolah menyimpan kepedihan. Kepedihan yang menular cepat padaku. Kepedihan yang tercium baunya, muncul dan menyergapku dengan perasaan kacau. 

       Dia sang mata angin, dia sang biru yang pandangannya menyisakan obsesi jiwa menaklukkan dunia. Dia yang bangga akan pendiriannya. Dia yang menjadi utara ketika medanku adalah selatan. Dia yang seketika menyadarkanku bahwa aku akan sia-sia jika tak menaklukkan ketakutanku, aku akan sia-sia jika aku tak memanfaatkan waktuku, aku yang akan menjadi manusia tua tak guna jika aku terus saja menjadi sahabat baik penunda. 
       Bagiku apa yang terjadi saat ini sungguh di luar penguasaanku atas diri. Rasanya pelik, menjadikan dia  guru padahal sepertinya ada perasaan spesial yang tersempil di hatiku untuknya. Yah, toh bisa jadi ini hal yang sementara, Paling-paling akan berganti dan lenyap seperti perasaan tak terdefinisi sebelumnya. 
#sigh

TSY - for good



Pages