"Klek" Pintu kamar mandi itu terbuka. Aku melihatnya, jelas dengan kedua mataku ini dia menangis, matanya memerah dan tisu itu selalu saja diusap-usapkannya dengan buru-buru ke arah matanya.
"Hiks" Aku mendengarnya. Dia memang menangis.
Dari balik pintu aku terus memperhatikan dirinya. Aku mulai berimajinasi, mungkinkah dia menagis karena seseorang yang ditunggunya tak juga datang, atau karena dia memang sedang bersedih dan datang ke kafe ku, atau.. kopi kafe ku ini memang tak enak? Oops, imajinasiku mulai mengoceh tak jelas. Aku menahan nafas dalam. Aku beranikan diri untuk menghampirinya yang sedang sibuk mengusap air matanya dan ingusnya yang meler itu.
"Permisi, mba nggak apa-apa?", tanyaku dengan pelan. Sangat pelann ...
"ah, hah .... um.. Enggak, saya baik-baik saja", jawabnya cepat sambil terburu-buru menuju mejanya.
Yah, mungkin aku yang terlalu kepikiran tentang cewe itu. Apalagi dia pengunjung setia kafeku akhir-akhir ini, dan yang dipesannya selalu saja kopi pahit. Cuma ngopi terus dia balik , dateng cuma ngopi terus balik, kapan makannya.
Esok harinya aku berangkat pagi. Hari ini ada tamu spesial datang ke kafe kecil ku ini. Sepertinya dia akan membawa pasukannya seperti tiga bulan yang lalu. Memesan kafe ini satu hari penuh, dan meng-order semua makanan khas kafe ku, tak ketinggalan kopi pahit itu. Hahaha..
Aku pun menyiapkan semuanya terlebih dahulu sebelum semua karyawanku datang dan membantu. Aku merapikan meja-meja pelanggan dan dapur. "Yap, semuanya cukup bagus. Biar karyawan ku aja ah yang nyelesein.", ucapku penuh rasa bangga dan puas.
Aku pun kembali ke dapur, mengambil tempat sampah yang kurang lebih sudah cukup penuh. Aku berniat membuangnya. "KlingKlong", aku buka pintu belakang kafe ku. Tanpa aku sadari seseorang sudah ada di belakangku, dia menepuk pundakku dan memberikanku sebuah surat. Aku menoleh, samar-samar aku mengenali dirinya yang sedang berlari terburu-buru menuju pintu depan. Aku pun mulai membaca kertas biru laut itu. "Tes .." Hah?! Aku menangis. Aku .. Air mataku perlahan turun berurutan , perlahan membasahi kertas biru laut yang ada di tanganku itu.
Dia menuliskan hal yang begitu meresahkan hatiku, merajuk pelan kepadaku.
"Kalau saja saat itu hujan hanyalah rintik-rintik mungkin aku tak akan pernah bertemu denganmu. Untung saja saat itu hujan deras. Kalau tidak kau pasti tak akan menepi dan berdiri di samping ku. Aku Anya, aku pernah menyukaimu dan tak pernah menyampaikan apa-apa. Kau teman satu angkatanku dulu waktu smp, kau teman sekelasku selama tiga tahun. Aku ingat semua itu. Tidak, aku hanya berusaha tetap mengingatnya.
Hari hujan itu mungkin takdir bagiku karena aku pernah berjanji akan menyampaikan perasaanku ini agar aku bisa tenang. Agar aku lega dan bisa mencintai pasanganku tanpa mengingatmu lagi. Aku akan menyampaikannya. Tapi saat itu kau mengejutkanku, kau sepertinya tidak mengenali diriku. Aku hanya bisa tertunduk bisu di sebelahmu menunggu hujan reda. Sejak saat itu aku selalu datang ke cafe tempatmu bekerja, aku selalu saja memesan kopi pahit. Rasanya tak enak, selalu saja membuatku ingin menangis. Aku selalu merasa ada kesedihan yang mengalir di kerongkonganku, setiap kali aku meneguknya. Rasanya menyesakkan. Dan akhirnya, kau mendapatiku sedang menangis. Padahal niat awalku memesannya agar aku tak mengingatmu, agar aku hanya mengingat Kopi Pahit ini. Maaf,, sebenarnya hanya ini yang ingin aku sampaikan,
"Dwi aku menyukaimu, itu benar, sampai saat ini aku masih menyukai mu. Aku tak pernah bisa melupakan senyuman-senyuman yang selalu kau terbitkan di wajahmu itu. Selalu saja mengingatnya dan itu lah obat terbaik bagiku saat aku bersedih. Maaf Dwi, aku tak menyampaikan ini sejak dulu ... Maaf aku terlambat mengatakannya .. " "
No comments:
Post a Comment