Monday, December 13, 2010

Saat Hari Hujan

Jalanan itu sepi, tanpa ada satu suara pun singgah di sana
Kemudian hujan pun turun, menjawab semua doa orang-orang yang butuh kedatangannya
Terlihat semak-semak bermain bersama angin yang mengibas-ngibaskan ujung mereka
Lambaiannya cantik, seolah-olah mengajak kita untuk mendekat
Pasukan semut datang berbondong-bondong membawa manisan dia atas tubuh mereka
Komandan berjalan di depan sambil menggoyangkan pinggul besarnya
Untuk sekarang jalanan itu tak lagi sepi
Banyak yang datang, banyak pula yang meramaikan
Seperti dunia ini, menjadi berarti saat banyak yang mengisi dan memahami keragaman yang mendekap kuat kehidupan di atasnya



Sunday, December 5, 2010

K's story

          Saat dia lahir, dia tau, dia mengerti, dia pun merasakannya. Ada cinta di sekelilingnya. Dan dia mulai terbiasa akan kenyataan hidup yang selalu ada di sekitarnya. Entah apa yang terjadi, saat dia beranjak remaja ada keraguan akan cinta yang sejak dulu dia dapati. dia mulai takut semua itu hanya kepalsuan, atau hanya formalitas agar dia percaya mereka. Mungkin dia terlihat bodoh memikirkan semua ini karena tak seharusnya dia ragukan itu semua. dia akan terlihat memalukan bila dia ragu akan cinta yang mereka berikan. dia tau itu. tak perlu ada orang yang menjelaskannya. Itu hanya akan membuatnya malu.
          Bila ada cara yang bisa yakinkan dia tentang semua ini. Bila saja ada. Saat ini dia hanya bisa berpikir. Tanpa tau kapan dia dapati jawabannya. Jika dia terlihat lemah karena ketakutannya itu, dia berkata akan berusaha memahaminya. Dia berharap kepalsuan yang dia takuti itu tak pernah ada, tak akan pernah ada, tak pernah terjadi di dalam hidupnya dan keluarganya.

Monday, September 20, 2010

Part IV ...

Malamnya aku bener-bener nggak bisa tidur. Padahal aku selalu inget pesan Bang Rhoma yang nggak memperbolehkan kita begadang begini. Tapi gimana lagi, aku nggak bisa berhenti mikirin hal itu. Seolah-olah semua yang terjadi padaku itu adalah sinyal bahwa aku lagi jatuh cinta. Dan parahnya si Mr. Money yang jadi korbannya. Maksudku, orang yang sudah membuat aku jatuh cinta. Tapi rasanya berat buat aku mengakui kalau aku memang suka padanya. Oh Tuhan, aku bingung harus berbuat apa. Kalau aku suka seharusnya aku tak benci atau menghindar seperti ini.
Sekarang sudah tiga hari aku dihantui perasaan seperti itu. Perasaan yang sepertinya sudah membuat diriku hang, seperti computer butut sekolahku. Tapi sehari tak bertemu dengannya rasanya sepi. Entah karena aku benar-benar menyukainya atau karena senang ada temanku yang datang meramaikan rumah. Tapi setelah dipikir-pikir lagi ternyata aku terlalu sibuk memikirkan hal-hal seperti ini. Sebaiknya aku cepat-cepat selesaikan tugas essayku yang akan aku kumpulkan nanti. “Arrgh.. Banyak banget sih urusanku ..”, pikirku kesal.
Tiga jam berlalu, dan aku masih terpaku di depan komputerku ini. Masih banyak yang harus aku tulis di dalam essayku itu, dan lagi-lagi aku ada dalam situasi bingung. Coba saja Setya datang, pasti akan langsung aku paksa dia bantu-bantu. Sudah tiga hari ini Setya nggak datang ke rumah. Padahal sebelumnya dia sering sekali datang kerumahku. Entah karena ada perlu denganku, atau ada yang ingin dia ceritakan, atau juga karena persoalan liburan bareng. Sepertinya dia juga sudah buat aku kangen sama dirinya. Ugh, konyol banget. Ada juga yah ternyata kasus kangen sama si Mr Money. Hihihi..
“TATAAAA ……. Woooyy..!!”, teriak seseorang.
Sumpah, teriakan orang yan satu itu kenceng banget. Bikin berisik, ganggu orang, dan bikin malu juga. Apa dia nggak tau teriak-teriak di siang bolong begini itu ganggu orang, yang dipanggil namanya kan juga malu. Arrgh.. malu-maluin banget sih tuh orang. Dan aku langsung tersadar kalau itu si Mr. Money, Setya.
“Aduh Ya, kalau mau ketemu aku nggak usah pake teriak-teriak. Udah gitu pake namaku segala juga, ada apa sih?”
“Hehehe.. Ini Ta, aku mau ngasih ini ke kamu. Kelamaan kalau aku ngasihnya harus pake ketok pintu sama masuk rumah. Kalau langsung manggil kan cepet, kamu langsung keluar...”
“Iya, iya. Tapi kalau kamu digebukin orang seperumahan gimana??”
“Udah ah, case closed. Yang penting kamu uda dapet kado dari aku kan Ta, Happy BeDay yah..”
O. M. G!!! Aku dapet hadiah, dapet ucapan selamat, dan itu langsung dari Setya. Sesaat aku bingung, yah aku bener-bener lupa sama hari ultahku. Aku cukup senang, cukup senang sampai aku bisa melayang. Mungkin..
“Hoiii… wake up girl, dikasih kado kok malah diem. Bilang terima kasih kek, peluk aku kek, atau nangis bahagia gitu napa..”, teriak Setya padaku.
“Hah.. Oh.. Eeeeehhhhh, ogah ah kalau aku harus peluk-peluk kamu, bukan mukhrim tau..”
“Kalau gitu kita nikah aja biar jadi mukhrimnya. Gimana??”
“Becanda kamu, aku masih muda, masih banyak yang harus aku lakuin selain nikah sama kamu..”
“Aku emang becanda kok… Hehehehe…”
“Syukurlah… Tapi thanks berat ya Ya..”, ucapku lega sambil tersenyum manis. Mungkin itu senyum termanis yang pernah aku kasih ke temen cowokku.
Tapi kok aku jadi kepikiran sama omongannya itu ya, dia kan cuma bercanda ngga seharusnya aku berlebihan memikirkan candaannya itu.
“Umm.. Ta, aku pamit dulu yah. Semoga kamu suka sama kado dari aku. Tenang aja Ta, aku nggak akan ngecewain kamu kok.. Langsung dibuka ya, aku mau denger komen kamu, bye……”, pamit Setya sambil berlalu.
Ugh, lagi-lagi dia bilang sesuatu yang buat mukaku ini merah. Dia ini ngeledek atau apa sih, aku bingung. Sama seperti hari-hari kemarin.
Sesampainya aku di kamarku, aku langsung buka kado dari Setya itu. Wow, boneka Teddy... Boneka kesukaanku sejak aku TK. “Hebat juga dia bisa tau boneka kesukaanku.. Aku sama sekali nggak menyangka kalau orang pelit kayak Setya mau beli boneka lucu begini .. Hihihi.. ”, batinku geli. Yah, setidaknya boneka ini nggak lebih kecil dari miss. Tuddy punyaku.

***

Saturday, July 17, 2010

Dear

Diariku,
Aku punya banyak pertanyaan di sepanjang hidupku ini. Saat ini mah aku juga lagi kepikiran sesuatu. Kenapa anjing yang banyak orang bilang “setia sampai mati” nggak dapet hak istimewa kaya kucing. Mungkin memang ada alasan khusus yang nggak bisa ditolak buat yang satu itu. Tapi kucing itu nyebelin. Masa ayam goreng yang yummy banget itu, yang buat makan siang, yang ada di meja makan disambar aja sama tuh hewan. Itu kan namanya mencuri. Pantes aja ada sebutan “Criminal Cat”. Aduh, jadi sewot aku. Padahal yang ngerasain pedihnya Karena kehilangan ayam goreng itu kan kakakku. Hehe..
GOKIL! Konyol banget kalau aku liat ekspresi kakakku yang shock ayam gorengnya dirampok kucing perumahan. Salah kita juga sih, lupa buat nutup jendela ruang tamu. Otomatis tuh “Criminal” bisa dengan leluasa masuk ke rumah. Kayaknya hari ini bukan hari yang nyebelin buat aku, tapi hari yang “SIAL” buat kakakku. Habis itu, nggak sengaja mata kakakku kena samberan tangan imutku ini. Wakakakakaak… super duper dah..!! XD
          Sekarang sih, kakakku kayaknya uda baikan. Ya jelaslah, dia uda makan iga bakar, sop plus nasi anget. Hawanya pas lagi dingin lagi, hmm.. mantap euy..! pokonya kalau nggak liat LIVe dari rumah aku , nggak bakalan ngakak berat. DISAIPUL, eh DIJAMIN..! ~Saipul Jamil kali ya..

Friday, July 9, 2010

Dear

Diariku,
Aku masih belum bisa mempercayai apa yang terjadi. Coba bayangkan, aku pasti netesin air-air yang diproduksi oleh kelenjar air mata itu. Sebal. Walaupun aku mencoba tegar dan tetap tenang seperti dulu, sepertinya semua yang aku harapkan terlihat jelas di mukaku ini. Aku hanya butuh satu hal. Aku butuh tempat yang luas. Jauh dari orang-orang yang  menyebalkan dan mengerikan. Hal pertama yang akan aku lakukan di sana adalah berlari sampai aku capek dan lupa akan semua yang aku pikirin. Lupa sama penat-penat yang menjengkelkan itu. Dan terakhir, aku mau menutupnya dengan teriakan yang nggak ada matinya. Oh pliss, apa yang terjadi ini kau harapkan berakhir saja. Sepertinya “yakin”, “percaya”, “saling mengerti” itu adalah hal yang paling mulia yang akan membantuku untuk menyelesaikan ini.
Masih ada yang lainnya yang nggak aku mengerti untuk saat ini. Kalau aku berpikir keras mungkin bisa aku dapatkan. Tapi aku nggak yakin aku membiarkan otakku bekerja terlalu keras untuk hal seperti ini. Sumpah, aku nggak mau. Kapasitas otak mungkin emang nggak ada matinya, tapi merepotkan juga kalau terus dipakai buat berpikir. Oh my gosh, sepertinya aku terus merajuk. Dan yang seperti ini bukanlah aku yang sebenarnya. Kau tau, aku nggak tau ke mana arah ceritaku ini. Aku Cuma mau melepaskan kata-kata yang mengumpul di pikiranku. Just let it go.
Kalau aku berbicara seperti ini aku jadi ingat sama laguku yang berjudul “Boy Says Love”. Maksudku, bukan makna yang ada di dalam lagu itu yang sama seperti keadaan ku saat ini, tapi itu hanya terpikir begitu saja olehku. Oh boy, why you never tell me what you feel. Arrgh.. kau membuatku bingung. Sedikit untuk membuat aku lega. Mungkin aku kan menyelipkan lirik laguku yang “mengerikan” itu. Menyelipkannya di buku pelajaran yang akan aku pinjam dari kamu. Hahahaha…

Sunday, July 4, 2010

Part III, ...

“Jika aku mampu untuk hadapi hariku, tanpa dirimu yang mungkin akan berlalu. Sesungguh aku, seseorang yang tak ingin melupakanmu, jauh dari dirimu … lalala ..”.
Hew, lagu dari Yonchan memang manis banget. Syair yang begitu dalam, diiringin musik yang menakjubkan. Tak pernah terpikir olehku sebelumnya tentang arti sebuah lagu. Aku cukup geli bila mendapati diriku sedang berpikir seperti ini. Seperti bukan aku. Maksudku, aku dalam arti yang lain.
Sama seperti saat aku mendapati diriku ini mengalami hal aneh itu.  Hal yang tak terdeteksi, tiba-tiba, dan belum diketahui jenisnya. Aku penasaran apa itu. Pastinya itu bukan sesuatu yang bisa dijelasin pakai rumus matematika, fisika, bahkan kimia sekalipun. Itu pasti.
Sekarang ini aku sedang duduk terpaku di depan computer manisku. Bayangkan saja, sudah dua jam--setelah aku selesai berpikir tentang gangguan aneh yang terjadi padaku itu--tak ada satu kata pun ada di dalam tugas essayku. Aku bingung setengah hidup tentang apa yang harus aku ketik. Tak ada pengalaman mengasyikan yang terjadi padaku dua minggu ini. Hanya hal konyol yang nggak aku tau itu apa. Apa aku harus menuliskan semua itu dalam tugas essayku? Huh, baru kali ini aku sadar kalau guru bahasaku benar-benar menyebalkan. Aku juga nggak mungkin menuliskan kegiatan apa saja yang aku lakukan saat liburan. Aku kan hanya main computer, nonton TV, baca komik, hanya hal-hal yang biasa. Padahal aku harus menulis essay semenarik mungkin buat dapetin nilai terbaik, yaitu A+.
Apa yang harus aku lakukan, waktu uda hampir habis. Dan sekarang ini aku dapati tak ada satu kata pun nongol di essay ku itu. Aku terus menunggu datangnya inspirasi itu. Sesuatu yang amat langka dan mahal saat kita membutuhkannya. Kalau ngga butuh, malah dateng betubi-tubi. Mungkin aku bisa memulainya dengan kata “Hey”. Tapi setelah dipikir-pikir itu kan yang dipakai buat mulai percakapan bukan tugas essay kayak beginian. Ugh, aku tambah bingung.
“Bukaaa… Bukaaa… Ayo cepetan dibukaaaa…”. Tiba-tiba isyarat pesan handphone imutku itu berbunyi. Dan yang satu itu uda buat aku kaget banget. Lagi sibuk-sibuknya cari si “Inspirasi” malah dikagetin sama isyarat pesan konyol. Hahaha ..
“Hai Ta, kata temen-temen kita bisa liburan bareng nih .. Gimana? :D”.
Wow, pesan yang sangat aku tunggu-tunggu selama ini. “Pemberitahuan bahwa akan diadakannya liburan bersama teman sekelas”. Aku pingin tau siap orang yang uda kirim SMS kaya gini ke aku. Aku mulai curiga, apa mungkin si Mr. Money itu yang kirimin aku SMS, atau temen sekelas aku yang lain. Semua itu pasti tetep diakhiri tanda tanya kalau aku nggak bales pesan menggembirakan ini.
“Bukaaa… Bukaa…”.
Isyarat pesan hapeku berbunyi lagi. Dan saat aku tau siapa yang kirim SMS itu, badan aku mulai ngerasain hal aneh itu lagi. Bedanya pipiku nggak memerah dan kerasa panas, cuma jantung aku ini yang berdetaknya nggak normal, cuma itu.
“Aku ini kenapa sih, aku kena kutukan atau apa sih, kok dapet SMS dari Mr. Money aja bisa kayak gini.”, batinku dalam hati.
Seperti pada rutinitas biasa bila kita dapet pesan dari seseorang, pastilah akan kita balas. Dan itulah  yang akan aku lakukan. Hanya saja setelah aku tau siapa pengirimnya, aku jadi bingung mau ketik apa. Aku hanya ragu mau kirim apa. Arrgh, asal kirim sajalah…
Lalu dari arah depan aku dengar suara motor yang nggak asing lagi buat kuping aku ini. “Motor Setya”. Waduh, buat apa dia datang. Aku yakin setelah dua hari berturut-turut dia datang ke rumah aku, dia nggak akan balik lagi. Lagi dan lagi, sekarang dia sudah ada di ruang tamuku. Bukan aku yang mempersilahkannya masuk, tapi mamaku tercinta. Sekilas aku melihat mama tersenyum kecil setelah memandang si Mr. Money itu. Aku heran apa yang sedang mama pikirkan. Andai saja aku punya kekuatan membaca pikiran, aku pasti tau apa yang sedang ada di pikiran mama.
“Hay Ya, bagaimana kabarmu?”, aku memulai percakapanku dengannya dengan kalimat yang begitu formal. Dan aku baru sadar bukan kalimat seperti itu yang harus aku ucapkan. Aku gugup. Sepertinya semua kata-kata yang tepat menghilang begitu saja dari otak pintarku ini.
“Aku baik-baik aja. Sangat baik kok Ta. Tumben kamu peduli kayak gitu?”
Apa-apaan ini orang, apa dia nggak tau kalau aku ini lagi kebingungan mau ngomong apa. Padahal, mungkin nggak harus sebegitu bingungnya.
“Hei, aku kan cuma nanyain kabar kamu, nggak boleh apa? Tumben? Perasaan aku ini memang peduli kan..”, balasku jengkel. Sebenarnya aku nggak perlu sekesal ini. Entah mengapa aku menjadi semenyebalkan seperti ini di depan Setya. Aku mulai khawatir pada diriku sendiri jadinya.
“Hohoho ... Jangan ngambek gitu donk. Aku kesini mau ngasih tau …”
“Kita jadi libur bareng kan? Libur sekelas itu kan?? Iya kan Ya??”, tanyaku memotong pembicaraannya.
“Iya, itu juga sih. Tapi ada yang lain lagi. Apa.. anu.. emm.. itu loh ..”
Ampun dah, dia kenapa sih. Apa bingung tujuannya mau kemana, apa bingung sama transportasinya, atau mungkin sama biaya yang dikeluarkan. Kalau itu tinggal dirundingkan sekelas kan. Beres.
“Hiih, kenapa kamu Ya? Kurang enak badan, atau kamu ada masalah lagi, mending jelasin aja ke aku ..”
“Oh.. Bukan itu Ta. Aku kesini sebenernya mau bilang kalau.. apa.. aku itu ..emm …”
“Apa hayo?? Nggak usah ribet kayak gitu deh. Kayak nggak pernah ngobrol aja sama aku..”
“Mungkin nggak saat ini kali yaa ..”, ucap Setya pelan. Sangat pelan. Aku sampai nggak bisa mendengarnya.
“Ya uda deh.. Kita rencanain mau liburan kemana aja ya? Mau nggak??”
“Boleh, ayo, siapa takut!!”
“Heh, kita bukan mau lomba tau. Mau bikin rencana mas .. Dasar, emang kamu pikir kita dapet nile ya? Hahaha..”, balasku sedikit bercanda.
Sedikit terlintas dipikiranku dia akan menyatakan cintanya tadi. Seperti dalam mimpi anehku itu. Mimpi yang nggak aku tunggu-tunggu kedatangannya. Tapi itu nggak mungkin. Mustahil baginya buat nyatain cinta ke aku ini. Lagian aku ini mikir apa sih, otakku sepertinya sudah nggak muat buat mikirin hal begituan. Masalah yang terjadi sama diriku saja belum kelar, mau ditambahin masalah jatuh cinta sama Setya…
“OMG!! Apa yang aku pikirin. Aku nggak mungkin jatuh cinta sama tu Bandeng, maksudku si Mr. Money, alias Setya, atau apalah itu. Kenapa aku bisa jatuh cinta sama dia, kenapa aku malah kepikiran kaya gini, kenapa????!!!!!”

***

Tuesday, June 29, 2010

Part II, ...

        Esoknya entah ada keperluan apa Setya datang lagi ke rumahku. Aku pikir urusannya kemarin denganku sudah selesai. Dan aku sudah nggak ada urusan lagi sama dia dan cerita cintanya itu. Tapi nyatanya, toh dia datang lagi ke rumahku, dan kali ini dia nggak pake muka kusutnya seperti kemarin. Raut mukanya lebih ceria dan matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang habis dapet permen. Sekilas aku menganggapnya sangatlah manis, setelah dipikir-pikir dia tidaklah semanis seperti yang aku banyangkan. Hahaha ……
          Sama seperti kemarin, aku mempersilahkannya masuk dan dia duduk di tempat yang sama. Hanya saja dia membawakan aura yang tak sejelek kemarin. Tak ada acara menahan tangis atau marah. Yah aku sudah bilang kan, dia lebih ceria dari sebelumnya dan matanya berbinar-binar bahagia. Mungkin masalahnya dengan Lita sudah berakhir, dan dia sudah bisa memahami apa yang terjadi, atau jangan-jangan dia senang karena bertemu aku lagi?? Oh, NO….!!!
          “Sebenernya ada perlu apa sih kamu kesini lagi? Bukannya kemarin uda selese, dan maaf ya sebelumnya kalau boleh jujur, sekarang aku lagi males buat ngurusin masalah cinta.”, kataku judes seperti biasa.
Padahal bukan mauku berkata seperti itu, tapi rasanya kesal saja saat dia datang padaku untuk meminta solusi akan masalah cintanya dengan Lita. Aku sebal saja dengan keadaan seperti ini. Ditambah lagi, aku bermimpi tentang dia yang lagi nyatain cinta ke aku. Dan sekarang dia datang ke rumah tanpa aku tau tujuannya. Apa yang harus aku lakukan Tuhan…?? Aku harus ngadepin dia kayak gimana, sesaat aku jadi gugup nerima tamu yang punya nama “Setya”.
          “Oh, bukan masalah itu, bukan itu tujuan aku ke sini. Aku mau ngajak kamu ke café Break. Ucapan terima kasih??”, tawarnya dengan sedikit nada melucu.
          “Umm .. Buat apa aku kesana, aku males buat pergi-pergi. Apalagi perginya sama kamu si Mr. Money. Ogah ah, males berat ..”
“Lho, kenapa kalo kamu pergi sama aku? Kamu malu? Atau kamu benci aku ya? Atau aku punya salah? Atau apa??”, tanyanya tanpa henti.
“Nggak, nggak kok. Nyate aja lagi Ya. Kamu nggak ada salah. Aku Cuma males buat pergi keluar, cuma itu.”
“Tapi.. Soalnya aku perhatiin dari awal kita kenalan, nada bicara kamu ke aku kayak orang benci gitu, kayak orang yang risih. Aku pikir kamu nggak suka sama aku , nggak suka aku jadi temenmu. Bla…bla.a…”, lanjutnya tanpa henti. Dia pun bercerita panjang lebar dengan mimik muka yang lucu. Terkadang dengan muka konyol, marah, atau gaya lebay seperti Tropika.
Aku pikir, nih orang suka ngobrol sama aku atau apa. Nggak berhenti-henti ngomongnya. Dia keliatan asik banget. Dan lagi, dia keliatan nggak peduli sama keadaan  aku yang uda capek nyengir sama ngangguk buat ngerespon ocehannya itu. Tapi dilain sisi dia cukup asyik buat diajak ngobrol. Walaupun dia sering nerocos nggak tentu, dia sering nyambung kalau aku ajak ngobrol masalah lain.
Jam besar rumahku udah nunjukin pukul 5 sore. Terlihat dari mukanya, dia udah keliatan capek. Kau tau, dia bercerita panjang lebar padaku seharian. Padahal niat awalanya datang kerumahku itu mau ngajak aku makan di Café Break. Tapi nyatanya? Mungkin karena keasikan ngobrol atau apa, dia jadi lupa sama niatnya itu.
“Oya Ta, kapan-kapan kita jalan bareng yuk. Umm.. Maksudku jalan bareng temen-temen. Hehe.. Kayaknya cocok kalau kita jalan bareng pas liburan kayak gini, biar nggak bosen di rumah, gimana?”
Wow, dia nawarin hal yang paling aku inginkan selama liburan ini, yaitu “Jalan-jalan bareng”. Aku pingin banget ikut, apalagi nanti kita perginya sama temen sekelas, pasti asik.
“Kalau itu aku mau!!”, jawabku semangat. Aku nggak peduli dia mikir apa sama reaksiku itu. Aku seneng banget dapat tawaran kaya gitu. Kayak “Dream comes true”.
“Hey, semangat baget sih. Kita kan belum bikin rencana, belum nyiapin apa-apa. Hahaha … Jangan-jangan emang itu ya yang kamu tungguin. Kenapa kamu nggak mau waktu aku ajak maken tadi? Kenapa nggak bilang?”, selidik Setya dengan nada sedikit menggodaku.
“Hiih, apaan sih. Aku tadi emang males, males berat malah. Lagian kita perginya berduaan, kan nggak asik. Asik kalo rame-rame kan??”, jawabku cepat. Kau tau, saat dia bertanya seperti itu aku ngerasa kalau jantungku ini berdengup kenceng. Kenceng banget. Mungkin aku ini sedikit capek. Jadinya jantung aku ini dengupnya kenceng banget kayak gini. Mungkin karena itu. Pasti karena itu.
“Iya juga ya. Ya udah Ta, aku pulang dulu. Maaf ya kalau aku yang baik ini ganggu kamu mulu. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya …”, kata Setya dengan nada sok resminya itu.
“Hey, bicara mu itu lho nggak oke banget dah. Udah sonoh pulang, nanti mamimu cemas lho …”, ledekku dengan wajah menyindir.
“Hahaha… ya, ya. Thanks ya Ta, you’re the best dah.. Bye, bye ….”
DEG-DEG-DEG-DEG … Ya ampun, jangan lagi. Jangan lagi aku ngerasain hal kayak beginian. Aku mohon berhenti berdengup kenceng kayak gini. Sesak tau, nafasku nggak teratur kan jadinya. Jadi kayak gini kan badan aku. Parah nih, pipi aku ini kerasa panas banget. Oh NO!! NO……!!!


***

Monday, June 28, 2010

Part I, ...

Liburan tahun ini sama seperti liburan tahun lalu, dimana aku hanya duduk terpaku di depan komputerku selama berjam-jam. Tak ada yang datang ke rumah untuk mengajakku berlibur. Yah, pasti mereka sedang bahagia berlibur bersama keluarga mereka. Aku pun jadi sedikit kesal ketika aku berpikir sampai saat ini aku belum mempunyai seseorang yang spesial di perjalanan cintaku. Tapi apalah dayaku, tugas sekolah yang sangat menumpuk tak mengizinkan aku memikirkan masalah seperti itu. Aku terlalu sibuk. Jadwalku padat seperti artis Hollywood. Arrrgh...
Hari demi hari berlalu. Liburanku hanya tinggal beberapa hari lagi, dan tak ada pengalaman menyenangkan apapun yang bisa aku ceritakan di tugas essay-ku. Masalah sepele ini membuat aku-Kau tau pikiranku jadi terbagi-bagi antara libur, tugas, dan masalah Who's the special one-jengkel, sebal, dan apapun itu yang tidak menyenagkan. Dan kalau aku pasang status akan aku pasang "It's Complicated", habis semua itu sudah menjejalkan diri mereka dengan paksa ke otakku sih .. ToT
Tiba-tiba teleponku berdering. Aku lihat nomor tak dikenal terpampang di layar hapeku. “Siapa sih yang telpon, ganggu aja lah ..”, batinku dalam hati. Dengan berat hati aku mengangkat telepon itu. Aku bener-bener malas buat melakukan itu semua. Bukan salah si penelpon sih kalau aku sewot sendiri kaya gini.
“Halo, dengan siapa yah?”, tanyaku ketus.
“Ini Tata bukan? Ini Setya, maaf nelpon di jam siang gini pasti kamu lagi istirahat ya? Aku ada perlu denganmu Ta”
“Oh, kamu Ya. Kamu perlu apa sih sama aku? Aku nggak ngutang kas ke kamu kan?”
“Bukanlah, bukan masalah itu. Ya udah, kita ketemuan jam 4 nanti di Café Break yaa…”
“Wah, kalo gitu aku nggak bisa. Mending yah kamu dateng aja kerumah aku, tenang aja aku bakalan nyediain jajan buat kamu kok… hehe..”
“Ok deh, jam 4 nanti aku datang ke rumah kamu.”
Huft, tak aku sangka aku bisa ngobrol sama Mr. Money kelasku. Biasanya dia mengajakku ngobrol hanya karena aku belum bayar kas harian kelasku. Begitulah Mr. Money. Yah, julukan itu emang uda nempel lengket banget sama dia, setelah keberhasilannya dalam mengurus uang kas kelas kami. “Sebenarnya dia butuh apa sih, sampai dia telpon aku segala.”, pikirku.
“Assalammu’alaikum ……”, salam seseorang di luar sana. Dan aku langsung tau kalau itu pasti si Mr. Money kami tercinta. Aku pun mempersilahkannya masuk.
Aku lihat wajahnya sedikit pucat. Napasnya pun terdengar terengah-engah. Aku heran dengan apa yang terjadi padanya. Aku pun mulai bertanya apa tujuannya datang. Sebelumnya dia berkata ada perlu denganku kan, dan sekarang ini di depanku dia hanya diam membisu.
Setelah dua puluh menit berlalu dengan kebisuannya itu, dia mulai mencoba berbicara perlahan. Tapi aku merasakan suatu kejanggalan, dia terdengar seperti ingin menangis. Mungkin karena di depan seorang cewek cantik sepertiku dia mengurungkan niatnya itu.
“Ta, kamu tau Lita anak 2C? Kamu kenal dia kan?”, tanyanya lirih.
“Aku tau Ya, dia teman SMP ku.”, jawabku cemas. Yang ada dalam otakku sekarang bukanlah masalah liburan yang membosankan itu, melainkan keadaan Setya yang terlihat rapuh bagiku.
“Dia bilang padaku dia benci padaku, lalu … Bla..bla..bla…”, jelas Setya sambil menahan tangisannya itu.
Hew, apa hubungannya denganku, aku ini kan cuma teman biasanya. Sahabat bukan, teman baik ya juga bukan. Hanya teman sekelas yang bertegur sapa saat penarikan uang kas, itu saja. Dan sekarang ini dia datang padaku, menceritakan semua yang terjadi padanya. Semua yang terjadi diantara dia dan Lita, teman SMP ku dulu. Dan aku hanya bisa diam dan mengangguk.
Saat itu dia tidak terlihat seperti cowok keren, yah si Mr. Money memang salah satu dari lima cowok keren kelasku. Dia terlihat seperti cewek manja yang sedang curhat dengan sahabat baiknya. Menyadari itu aku pun merasa geli. Hihihi …
Setelah dia menyelesaikan bicaranya itu, dia langsung bertanya padaku apa pendapatku. “Hey, kau tau aku tidak sekalipun mendengarkan dan memperhatikan curhatanmu itu. Itu terlalu asing dan aneh bagiku. Dan kau terus mengoceh tanpa mempedulikan aku yang sangat kebingungan ini” Sebenarnya itu yang ingin aku katakan padanya. Tapi melihat matanya yang penuh harap kepadaku aku hanya bisa memberinya sedikit kata-kata.
“Menurutku kamu harus sadar apa salahmu sama dia atau bila perlu, tanyakan saja langsung. Perlu kamu tau, nggak semua yang kamu ceritakan itu aku ngertiin dan cuma itu yang bisa aku kasih ke kamu.”, kataku pelan.
“Umm... Thanks for your advice Ta, emang bener kata orang kamu pinter kasih solusi. Maaf kalau aku ganggu kamu yaa …”
“Hohoho …. It’s okay! Sabar yah Mr. Money..”, ledekku cepat.



***

Sunday, June 27, 2010

Take a picture please ..


Inspirasi itu nggak usah dicari kok, percaya aja kalau inspirasi itu selalu ada di dekat kita … 
Nih, beberapa foto  yang aku ambil waktu aku kelas 1 SMA ..
Dan foto-foto di bawah ini modelnya teman-teman aku di X5 yang biasa di sebut anak "SEGA PANAS"  yang pliss dah isinya anak-anak pada cakep-cakep sama cantik-cantik semua .... 
tapi nggak ketinggalan sopan, santun, sama pinternya... Hehe ...
Foto yang satu ini salah satu foto favorit, 
karena walau dadakan diambilnya, 
tapi hasilnya bagus (without editting process loh) ^^
"Say Cheseeeee....."

Hihihi ... Ini mah Gandhita sama Faisal
"Prikitiewww.."

"Yo-Yo-Yo..", teriak Uni

Di sini ada Tya, yang lagi sibuk sama handphonenya.. ^^

Mita lagi mikirin siapa sih?
Ini lagi si Putri, hapean bae ...Hihihi



Semua foto-foto yang ada itu hasil jepretan aku sama temen aku yang jadi potographer dadakan.. (Hihihi ...)
Ada juga foto yang diambil waktu perpisahan anak-anak kelas tiga, yang pastinya cuma anak kelas sepuluh yang kena jepretanku. Nih, beberapa yang kena jepretan ..


Si Fajar (Jacko) yang kayaknya sih berperan jadi bapak.. Kayaknya.....

Amijuvika dan Andin (yang ketutupan si cowok) di salah satu adegan 

Ini yang namanya Latif ( kayaknyaa...), liat deh gayanya di foto ini ... ^ ^

Ini mah Sapta, Fajar, dan Widi (dari kiri ke kanan) 


Ada juga foto yang aku ambil di Purbalingga, tapi yang jadi model ya aku dan keluargaku. Sebagian foto diambil iseng-iseng sama aku dan kakakku, Hanny.
Ini nih foto-fotonya ...






Nggak nyesel dah pagi-pagi banget aku bangun trus langsung ke Purbalingga, bisa dapet foto-foto kayak beginian sih .. Suasana di sana enak banget pas pagi-pagi. Embunnya masih kerasa sejuk banget!! ^^

Hahaha  

Take a picture please ..

Saturday, June 26, 2010

Behind the "Lapangan SMADA"

Lapangan SMADA adalah salah satu tempat yang unik dan fantastis bagiku. Bayangkan, di sana kita bisa melakukan apa saja, tak terkecuali berphoto ria bersama ... Hehehe




Inilah beberapa foto yang kita ambil di Lapangan SMADA kami "Tercinta",





Dan ini adalah beberapa foto yang diambil sebelum pemotretan dimulai ^ ^



“Kaliam ini… Kalian lagi ngapain sih??”, tanya Aulia.





"Kusihir kau...", sihir Aulia


"Tidaakkk........", jerit Yoan 
Dan di lain sisi, Hesti sedang tersenyum bahagia akan tingkah kedua orang tersebut... (Maksudnya??)





















Begitulah cerita "Pemotertan" kami di Lapangan SMADA..  ^ ^




dan....
Thanks berat buat semuanya yaa..
 buat yang jadi model, yang nyetting, dan yang jadi photographer dadakan, kalian semua memang fantastis..!!



Pages