Saturday, July 17, 2010

Dear

Diariku,
Aku punya banyak pertanyaan di sepanjang hidupku ini. Saat ini mah aku juga lagi kepikiran sesuatu. Kenapa anjing yang banyak orang bilang “setia sampai mati” nggak dapet hak istimewa kaya kucing. Mungkin memang ada alasan khusus yang nggak bisa ditolak buat yang satu itu. Tapi kucing itu nyebelin. Masa ayam goreng yang yummy banget itu, yang buat makan siang, yang ada di meja makan disambar aja sama tuh hewan. Itu kan namanya mencuri. Pantes aja ada sebutan “Criminal Cat”. Aduh, jadi sewot aku. Padahal yang ngerasain pedihnya Karena kehilangan ayam goreng itu kan kakakku. Hehe..
GOKIL! Konyol banget kalau aku liat ekspresi kakakku yang shock ayam gorengnya dirampok kucing perumahan. Salah kita juga sih, lupa buat nutup jendela ruang tamu. Otomatis tuh “Criminal” bisa dengan leluasa masuk ke rumah. Kayaknya hari ini bukan hari yang nyebelin buat aku, tapi hari yang “SIAL” buat kakakku. Habis itu, nggak sengaja mata kakakku kena samberan tangan imutku ini. Wakakakakaak… super duper dah..!! XD
          Sekarang sih, kakakku kayaknya uda baikan. Ya jelaslah, dia uda makan iga bakar, sop plus nasi anget. Hawanya pas lagi dingin lagi, hmm.. mantap euy..! pokonya kalau nggak liat LIVe dari rumah aku , nggak bakalan ngakak berat. DISAIPUL, eh DIJAMIN..! ~Saipul Jamil kali ya..

Friday, July 9, 2010

Dear

Diariku,
Aku masih belum bisa mempercayai apa yang terjadi. Coba bayangkan, aku pasti netesin air-air yang diproduksi oleh kelenjar air mata itu. Sebal. Walaupun aku mencoba tegar dan tetap tenang seperti dulu, sepertinya semua yang aku harapkan terlihat jelas di mukaku ini. Aku hanya butuh satu hal. Aku butuh tempat yang luas. Jauh dari orang-orang yang  menyebalkan dan mengerikan. Hal pertama yang akan aku lakukan di sana adalah berlari sampai aku capek dan lupa akan semua yang aku pikirin. Lupa sama penat-penat yang menjengkelkan itu. Dan terakhir, aku mau menutupnya dengan teriakan yang nggak ada matinya. Oh pliss, apa yang terjadi ini kau harapkan berakhir saja. Sepertinya “yakin”, “percaya”, “saling mengerti” itu adalah hal yang paling mulia yang akan membantuku untuk menyelesaikan ini.
Masih ada yang lainnya yang nggak aku mengerti untuk saat ini. Kalau aku berpikir keras mungkin bisa aku dapatkan. Tapi aku nggak yakin aku membiarkan otakku bekerja terlalu keras untuk hal seperti ini. Sumpah, aku nggak mau. Kapasitas otak mungkin emang nggak ada matinya, tapi merepotkan juga kalau terus dipakai buat berpikir. Oh my gosh, sepertinya aku terus merajuk. Dan yang seperti ini bukanlah aku yang sebenarnya. Kau tau, aku nggak tau ke mana arah ceritaku ini. Aku Cuma mau melepaskan kata-kata yang mengumpul di pikiranku. Just let it go.
Kalau aku berbicara seperti ini aku jadi ingat sama laguku yang berjudul “Boy Says Love”. Maksudku, bukan makna yang ada di dalam lagu itu yang sama seperti keadaan ku saat ini, tapi itu hanya terpikir begitu saja olehku. Oh boy, why you never tell me what you feel. Arrgh.. kau membuatku bingung. Sedikit untuk membuat aku lega. Mungkin aku kan menyelipkan lirik laguku yang “mengerikan” itu. Menyelipkannya di buku pelajaran yang akan aku pinjam dari kamu. Hahahaha…

Sunday, July 4, 2010

Part III, ...

“Jika aku mampu untuk hadapi hariku, tanpa dirimu yang mungkin akan berlalu. Sesungguh aku, seseorang yang tak ingin melupakanmu, jauh dari dirimu … lalala ..”.
Hew, lagu dari Yonchan memang manis banget. Syair yang begitu dalam, diiringin musik yang menakjubkan. Tak pernah terpikir olehku sebelumnya tentang arti sebuah lagu. Aku cukup geli bila mendapati diriku sedang berpikir seperti ini. Seperti bukan aku. Maksudku, aku dalam arti yang lain.
Sama seperti saat aku mendapati diriku ini mengalami hal aneh itu.  Hal yang tak terdeteksi, tiba-tiba, dan belum diketahui jenisnya. Aku penasaran apa itu. Pastinya itu bukan sesuatu yang bisa dijelasin pakai rumus matematika, fisika, bahkan kimia sekalipun. Itu pasti.
Sekarang ini aku sedang duduk terpaku di depan computer manisku. Bayangkan saja, sudah dua jam--setelah aku selesai berpikir tentang gangguan aneh yang terjadi padaku itu--tak ada satu kata pun ada di dalam tugas essayku. Aku bingung setengah hidup tentang apa yang harus aku ketik. Tak ada pengalaman mengasyikan yang terjadi padaku dua minggu ini. Hanya hal konyol yang nggak aku tau itu apa. Apa aku harus menuliskan semua itu dalam tugas essayku? Huh, baru kali ini aku sadar kalau guru bahasaku benar-benar menyebalkan. Aku juga nggak mungkin menuliskan kegiatan apa saja yang aku lakukan saat liburan. Aku kan hanya main computer, nonton TV, baca komik, hanya hal-hal yang biasa. Padahal aku harus menulis essay semenarik mungkin buat dapetin nilai terbaik, yaitu A+.
Apa yang harus aku lakukan, waktu uda hampir habis. Dan sekarang ini aku dapati tak ada satu kata pun nongol di essay ku itu. Aku terus menunggu datangnya inspirasi itu. Sesuatu yang amat langka dan mahal saat kita membutuhkannya. Kalau ngga butuh, malah dateng betubi-tubi. Mungkin aku bisa memulainya dengan kata “Hey”. Tapi setelah dipikir-pikir itu kan yang dipakai buat mulai percakapan bukan tugas essay kayak beginian. Ugh, aku tambah bingung.
“Bukaaa… Bukaaa… Ayo cepetan dibukaaaa…”. Tiba-tiba isyarat pesan handphone imutku itu berbunyi. Dan yang satu itu uda buat aku kaget banget. Lagi sibuk-sibuknya cari si “Inspirasi” malah dikagetin sama isyarat pesan konyol. Hahaha ..
“Hai Ta, kata temen-temen kita bisa liburan bareng nih .. Gimana? :D”.
Wow, pesan yang sangat aku tunggu-tunggu selama ini. “Pemberitahuan bahwa akan diadakannya liburan bersama teman sekelas”. Aku pingin tau siap orang yang uda kirim SMS kaya gini ke aku. Aku mulai curiga, apa mungkin si Mr. Money itu yang kirimin aku SMS, atau temen sekelas aku yang lain. Semua itu pasti tetep diakhiri tanda tanya kalau aku nggak bales pesan menggembirakan ini.
“Bukaaa… Bukaa…”.
Isyarat pesan hapeku berbunyi lagi. Dan saat aku tau siapa yang kirim SMS itu, badan aku mulai ngerasain hal aneh itu lagi. Bedanya pipiku nggak memerah dan kerasa panas, cuma jantung aku ini yang berdetaknya nggak normal, cuma itu.
“Aku ini kenapa sih, aku kena kutukan atau apa sih, kok dapet SMS dari Mr. Money aja bisa kayak gini.”, batinku dalam hati.
Seperti pada rutinitas biasa bila kita dapet pesan dari seseorang, pastilah akan kita balas. Dan itulah  yang akan aku lakukan. Hanya saja setelah aku tau siapa pengirimnya, aku jadi bingung mau ketik apa. Aku hanya ragu mau kirim apa. Arrgh, asal kirim sajalah…
Lalu dari arah depan aku dengar suara motor yang nggak asing lagi buat kuping aku ini. “Motor Setya”. Waduh, buat apa dia datang. Aku yakin setelah dua hari berturut-turut dia datang ke rumah aku, dia nggak akan balik lagi. Lagi dan lagi, sekarang dia sudah ada di ruang tamuku. Bukan aku yang mempersilahkannya masuk, tapi mamaku tercinta. Sekilas aku melihat mama tersenyum kecil setelah memandang si Mr. Money itu. Aku heran apa yang sedang mama pikirkan. Andai saja aku punya kekuatan membaca pikiran, aku pasti tau apa yang sedang ada di pikiran mama.
“Hay Ya, bagaimana kabarmu?”, aku memulai percakapanku dengannya dengan kalimat yang begitu formal. Dan aku baru sadar bukan kalimat seperti itu yang harus aku ucapkan. Aku gugup. Sepertinya semua kata-kata yang tepat menghilang begitu saja dari otak pintarku ini.
“Aku baik-baik aja. Sangat baik kok Ta. Tumben kamu peduli kayak gitu?”
Apa-apaan ini orang, apa dia nggak tau kalau aku ini lagi kebingungan mau ngomong apa. Padahal, mungkin nggak harus sebegitu bingungnya.
“Hei, aku kan cuma nanyain kabar kamu, nggak boleh apa? Tumben? Perasaan aku ini memang peduli kan..”, balasku jengkel. Sebenarnya aku nggak perlu sekesal ini. Entah mengapa aku menjadi semenyebalkan seperti ini di depan Setya. Aku mulai khawatir pada diriku sendiri jadinya.
“Hohoho ... Jangan ngambek gitu donk. Aku kesini mau ngasih tau …”
“Kita jadi libur bareng kan? Libur sekelas itu kan?? Iya kan Ya??”, tanyaku memotong pembicaraannya.
“Iya, itu juga sih. Tapi ada yang lain lagi. Apa.. anu.. emm.. itu loh ..”
Ampun dah, dia kenapa sih. Apa bingung tujuannya mau kemana, apa bingung sama transportasinya, atau mungkin sama biaya yang dikeluarkan. Kalau itu tinggal dirundingkan sekelas kan. Beres.
“Hiih, kenapa kamu Ya? Kurang enak badan, atau kamu ada masalah lagi, mending jelasin aja ke aku ..”
“Oh.. Bukan itu Ta. Aku kesini sebenernya mau bilang kalau.. apa.. aku itu ..emm …”
“Apa hayo?? Nggak usah ribet kayak gitu deh. Kayak nggak pernah ngobrol aja sama aku..”
“Mungkin nggak saat ini kali yaa ..”, ucap Setya pelan. Sangat pelan. Aku sampai nggak bisa mendengarnya.
“Ya uda deh.. Kita rencanain mau liburan kemana aja ya? Mau nggak??”
“Boleh, ayo, siapa takut!!”
“Heh, kita bukan mau lomba tau. Mau bikin rencana mas .. Dasar, emang kamu pikir kita dapet nile ya? Hahaha..”, balasku sedikit bercanda.
Sedikit terlintas dipikiranku dia akan menyatakan cintanya tadi. Seperti dalam mimpi anehku itu. Mimpi yang nggak aku tunggu-tunggu kedatangannya. Tapi itu nggak mungkin. Mustahil baginya buat nyatain cinta ke aku ini. Lagian aku ini mikir apa sih, otakku sepertinya sudah nggak muat buat mikirin hal begituan. Masalah yang terjadi sama diriku saja belum kelar, mau ditambahin masalah jatuh cinta sama Setya…
“OMG!! Apa yang aku pikirin. Aku nggak mungkin jatuh cinta sama tu Bandeng, maksudku si Mr. Money, alias Setya, atau apalah itu. Kenapa aku bisa jatuh cinta sama dia, kenapa aku malah kepikiran kaya gini, kenapa????!!!!!”

***

Pages