Esoknya entah ada keperluan apa Setya datang lagi ke rumahku. Aku pikir urusannya kemarin denganku sudah selesai. Dan aku sudah nggak ada urusan lagi sama dia dan cerita cintanya itu. Tapi nyatanya, toh dia datang lagi ke rumahku, dan kali ini dia nggak pake muka kusutnya seperti kemarin. Raut mukanya lebih ceria dan matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang habis dapet permen. Sekilas aku menganggapnya sangatlah manis, setelah dipikir-pikir dia tidaklah semanis seperti yang aku banyangkan. Hahaha ……
Sama seperti kemarin, aku mempersilahkannya masuk dan dia duduk di tempat yang sama. Hanya saja dia membawakan aura yang tak sejelek kemarin. Tak ada acara menahan tangis atau marah. Yah aku sudah bilang kan , dia lebih ceria dari sebelumnya dan matanya berbinar-binar bahagia. Mungkin masalahnya dengan Lita sudah berakhir, dan dia sudah bisa memahami apa yang terjadi, atau jangan-jangan dia senang karena bertemu aku lagi?? Oh, NO….!!!
“Sebenernya ada perlu apa sih kamu kesini lagi? Bukannya kemarin uda selese, dan maaf ya sebelumnya kalau boleh jujur, sekarang aku lagi males buat ngurusin masalah cinta.”, kataku judes seperti biasa.
Padahal bukan mauku berkata seperti itu, tapi rasanya kesal saja saat dia datang padaku untuk meminta solusi akan masalah cintanya dengan Lita. Aku sebal saja dengan keadaan seperti ini. Ditambah lagi, aku bermimpi tentang dia yang lagi nyatain cinta ke aku. Dan sekarang dia datang ke rumah tanpa aku tau tujuannya. Apa yang harus aku lakukan Tuhan…?? Aku harus ngadepin dia kayak gimana, sesaat aku jadi gugup nerima tamu yang punya nama “Setya”.
“Oh, bukan masalah itu, bukan itu tujuan aku ke sini. Aku mau ngajak kamu ke café Break. Ucapan terima kasih??”, tawarnya dengan sedikit nada melucu.
“Umm .. Buat apa aku kesana, aku males buat pergi-pergi. Apalagi perginya sama kamu si Mr. Money. Ogah ah, males berat ..”
“Lho, kenapa kalo kamu pergi sama aku? Kamu malu? Atau kamu benci aku ya? Atau aku punya salah? Atau apa??”, tanyanya tanpa henti.
“Nggak, nggak kok. Nyate aja lagi Ya. Kamu nggak ada salah. Aku Cuma males buat pergi keluar, cuma itu.”
“Tapi.. Soalnya aku perhatiin dari awal kita kenalan, nada bicara kamu ke aku kayak orang benci gitu, kayak orang yang risih. Aku pikir kamu nggak suka sama aku , nggak suka aku jadi temenmu. Bla…bla.a…”, lanjutnya tanpa henti. Dia pun bercerita panjang lebar dengan mimik muka yang lucu. Terkadang dengan muka konyol, marah, atau gaya lebay seperti Tropika.
Aku pikir, nih orang suka ngobrol sama aku atau apa. Nggak berhenti-henti ngomongnya. Dia keliatan asik banget. Dan lagi, dia keliatan nggak peduli sama keadaan aku yang uda capek nyengir sama ngangguk buat ngerespon ocehannya itu. Tapi dilain sisi dia cukup asyik buat diajak ngobrol. Walaupun dia sering nerocos nggak tentu, dia sering nyambung kalau aku ajak ngobrol masalah lain.
Jam besar rumahku udah nunjukin pukul 5 sore. Terlihat dari mukanya, dia udah keliatan capek. Kau tau, dia bercerita panjang lebar padaku seharian. Padahal niat awalanya datang kerumahku itu mau ngajak aku makan di Café Break. Tapi nyatanya? Mungkin karena keasikan ngobrol atau apa, dia jadi lupa sama niatnya itu.
“Oya Ta, kapan-kapan kita jalan bareng yuk. Umm.. Maksudku jalan bareng temen-temen. Hehe.. Kayaknya cocok kalau kita jalan bareng pas liburan kayak gini, biar nggak bosen di rumah, gimana?”
Wow, dia nawarin hal yang paling aku inginkan selama liburan ini, yaitu “Jalan-jalan bareng”. Aku pingin banget ikut, apalagi nanti kita perginya sama temen sekelas, pasti asik.
“Kalau itu aku mau!!”, jawabku semangat. Aku nggak peduli dia mikir apa sama reaksiku itu. Aku seneng banget dapat tawaran kaya gitu. Kayak “Dream comes true”.
“Hey, semangat baget sih. Kita kan belum bikin rencana, belum nyiapin apa-apa. Hahaha … Jangan-jangan emang itu ya yang kamu tungguin. Kenapa kamu nggak mau waktu aku ajak maken tadi? Kenapa nggak bilang?”, selidik Setya dengan nada sedikit menggodaku.
“Hiih, apaan sih. Aku tadi emang males, males berat malah. Lagian kita perginya berduaan, kan nggak asik. Asik kalo rame-rame kan ??”, jawabku cepat. Kau tau, saat dia bertanya seperti itu aku ngerasa kalau jantungku ini berdengup kenceng. Kenceng banget. Mungkin aku ini sedikit capek. Jadinya jantung aku ini dengupnya kenceng banget kayak gini. Mungkin karena itu. Pasti karena itu.
“Iya juga ya. Ya udah Ta, aku pulang dulu. Maaf ya kalau aku yang baik ini ganggu kamu mulu. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya …”, kata Setya dengan nada sok resminya itu.
“Hey, bicara mu itu lho nggak oke banget dah. Udah sonoh pulang, nanti mamimu cemas lho …”, ledekku dengan wajah menyindir.
“Hahaha… ya, ya. Thanks ya Ta, you’re the best dah.. Bye, bye ….”
DEG-DEG-DEG-DEG … Ya ampun, jangan lagi. Jangan lagi aku ngerasain hal kayak beginian. Aku mohon berhenti berdengup kenceng kayak gini. Sesak tau, nafasku nggak teratur kan jadinya. Jadi kayak gini kan badan aku. Parah nih, pipi aku ini kerasa panas banget. Oh NO!! NO……!!!
***