Diariku,
Aku masih belum bisa mempercayai apa yang terjadi. Coba bayangkan, aku pasti netesin air-air yang diproduksi oleh kelenjar air mata itu. Sebal. Walaupun aku mencoba tegar dan tetap tenang seperti dulu, sepertinya semua yang aku harapkan terlihat jelas di mukaku ini. Aku hanya butuh satu hal. Aku butuh tempat yang luas. Jauh dari orang-orang yang menyebalkan dan mengerikan. Hal pertama yang akan aku lakukan di sana adalah berlari sampai aku capek dan lupa akan semua yang aku pikirin. Lupa sama penat-penat yang menjengkelkan itu. Dan terakhir, aku mau menutupnya dengan teriakan yang nggak ada matinya. Oh pliss, apa yang terjadi ini kau harapkan berakhir saja. Sepertinya “yakin”, “percaya”, “saling mengerti” itu adalah hal yang paling mulia yang akan membantuku untuk menyelesaikan ini.
Masih ada yang lainnya yang nggak aku mengerti untuk saat ini. Kalau aku berpikir keras mungkin bisa aku dapatkan. Tapi aku nggak yakin aku membiarkan otakku bekerja terlalu keras untuk hal seperti ini. Sumpah, aku nggak mau. Kapasitas otak mungkin emang nggak ada matinya, tapi merepotkan juga kalau terus dipakai buat berpikir. Oh my gosh, sepertinya aku terus merajuk. Dan yang seperti ini bukanlah aku yang sebenarnya. Kau tau, aku nggak tau ke mana arah ceritaku ini. Aku Cuma mau melepaskan kata-kata yang mengumpul di pikiranku. Just let it go.
Kalau aku berbicara seperti ini aku jadi ingat sama laguku yang berjudul “Boy Says Love”. Maksudku, bukan makna yang ada di dalam lagu itu yang sama seperti keadaan ku saat ini, tapi itu hanya terpikir begitu saja olehku. Oh boy, why you never tell me what you feel. Arrgh.. kau membuatku bingung. Sedikit untuk membuat aku lega. Mungkin aku kan menyelipkan lirik laguku yang “mengerikan” itu. Menyelipkannya di buku pelajaran yang akan aku pinjam dari kamu. Hahahaha…
No comments:
Post a Comment