"kau mata angin
menjadi penunjuk kilau muncul setengah hari
kaulah sudut bermula angin yang tak bernyawa
ketika petang tiba perlahan,
kau melambaikan padanya untuk menyimpan kilau setengah hari
kau mata angin yang mengawali
entah dari suatu irama atau kias suatu nada
itulah kau ....."
Padahal bisa saja aku sampaikan dengan kata-kata yang jelas, bahwa aku merindukannya. Ugh, memalukan! xD. Mungkin aku hanya terbawa suasana 'single' yang nyatanya memang sedikit menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi, aku jadi terpikir untuk membuat sebuah puisi tentangnya, maksudku namanya. Hihihi
No comments:
Post a Comment