Monday, June 28, 2010

Part I, ...

Liburan tahun ini sama seperti liburan tahun lalu, dimana aku hanya duduk terpaku di depan komputerku selama berjam-jam. Tak ada yang datang ke rumah untuk mengajakku berlibur. Yah, pasti mereka sedang bahagia berlibur bersama keluarga mereka. Aku pun jadi sedikit kesal ketika aku berpikir sampai saat ini aku belum mempunyai seseorang yang spesial di perjalanan cintaku. Tapi apalah dayaku, tugas sekolah yang sangat menumpuk tak mengizinkan aku memikirkan masalah seperti itu. Aku terlalu sibuk. Jadwalku padat seperti artis Hollywood. Arrrgh...
Hari demi hari berlalu. Liburanku hanya tinggal beberapa hari lagi, dan tak ada pengalaman menyenangkan apapun yang bisa aku ceritakan di tugas essay-ku. Masalah sepele ini membuat aku-Kau tau pikiranku jadi terbagi-bagi antara libur, tugas, dan masalah Who's the special one-jengkel, sebal, dan apapun itu yang tidak menyenagkan. Dan kalau aku pasang status akan aku pasang "It's Complicated", habis semua itu sudah menjejalkan diri mereka dengan paksa ke otakku sih .. ToT
Tiba-tiba teleponku berdering. Aku lihat nomor tak dikenal terpampang di layar hapeku. “Siapa sih yang telpon, ganggu aja lah ..”, batinku dalam hati. Dengan berat hati aku mengangkat telepon itu. Aku bener-bener malas buat melakukan itu semua. Bukan salah si penelpon sih kalau aku sewot sendiri kaya gini.
“Halo, dengan siapa yah?”, tanyaku ketus.
“Ini Tata bukan? Ini Setya, maaf nelpon di jam siang gini pasti kamu lagi istirahat ya? Aku ada perlu denganmu Ta”
“Oh, kamu Ya. Kamu perlu apa sih sama aku? Aku nggak ngutang kas ke kamu kan?”
“Bukanlah, bukan masalah itu. Ya udah, kita ketemuan jam 4 nanti di Café Break yaa…”
“Wah, kalo gitu aku nggak bisa. Mending yah kamu dateng aja kerumah aku, tenang aja aku bakalan nyediain jajan buat kamu kok… hehe..”
“Ok deh, jam 4 nanti aku datang ke rumah kamu.”
Huft, tak aku sangka aku bisa ngobrol sama Mr. Money kelasku. Biasanya dia mengajakku ngobrol hanya karena aku belum bayar kas harian kelasku. Begitulah Mr. Money. Yah, julukan itu emang uda nempel lengket banget sama dia, setelah keberhasilannya dalam mengurus uang kas kelas kami. “Sebenarnya dia butuh apa sih, sampai dia telpon aku segala.”, pikirku.
“Assalammu’alaikum ……”, salam seseorang di luar sana. Dan aku langsung tau kalau itu pasti si Mr. Money kami tercinta. Aku pun mempersilahkannya masuk.
Aku lihat wajahnya sedikit pucat. Napasnya pun terdengar terengah-engah. Aku heran dengan apa yang terjadi padanya. Aku pun mulai bertanya apa tujuannya datang. Sebelumnya dia berkata ada perlu denganku kan, dan sekarang ini di depanku dia hanya diam membisu.
Setelah dua puluh menit berlalu dengan kebisuannya itu, dia mulai mencoba berbicara perlahan. Tapi aku merasakan suatu kejanggalan, dia terdengar seperti ingin menangis. Mungkin karena di depan seorang cewek cantik sepertiku dia mengurungkan niatnya itu.
“Ta, kamu tau Lita anak 2C? Kamu kenal dia kan?”, tanyanya lirih.
“Aku tau Ya, dia teman SMP ku.”, jawabku cemas. Yang ada dalam otakku sekarang bukanlah masalah liburan yang membosankan itu, melainkan keadaan Setya yang terlihat rapuh bagiku.
“Dia bilang padaku dia benci padaku, lalu … Bla..bla..bla…”, jelas Setya sambil menahan tangisannya itu.
Hew, apa hubungannya denganku, aku ini kan cuma teman biasanya. Sahabat bukan, teman baik ya juga bukan. Hanya teman sekelas yang bertegur sapa saat penarikan uang kas, itu saja. Dan sekarang ini dia datang padaku, menceritakan semua yang terjadi padanya. Semua yang terjadi diantara dia dan Lita, teman SMP ku dulu. Dan aku hanya bisa diam dan mengangguk.
Saat itu dia tidak terlihat seperti cowok keren, yah si Mr. Money memang salah satu dari lima cowok keren kelasku. Dia terlihat seperti cewek manja yang sedang curhat dengan sahabat baiknya. Menyadari itu aku pun merasa geli. Hihihi …
Setelah dia menyelesaikan bicaranya itu, dia langsung bertanya padaku apa pendapatku. “Hey, kau tau aku tidak sekalipun mendengarkan dan memperhatikan curhatanmu itu. Itu terlalu asing dan aneh bagiku. Dan kau terus mengoceh tanpa mempedulikan aku yang sangat kebingungan ini” Sebenarnya itu yang ingin aku katakan padanya. Tapi melihat matanya yang penuh harap kepadaku aku hanya bisa memberinya sedikit kata-kata.
“Menurutku kamu harus sadar apa salahmu sama dia atau bila perlu, tanyakan saja langsung. Perlu kamu tau, nggak semua yang kamu ceritakan itu aku ngertiin dan cuma itu yang bisa aku kasih ke kamu.”, kataku pelan.
“Umm... Thanks for your advice Ta, emang bener kata orang kamu pinter kasih solusi. Maaf kalau aku ganggu kamu yaa …”
“Hohoho …. It’s okay! Sabar yah Mr. Money..”, ledekku cepat.



***

No comments:

Post a Comment

Pages